Kompas.com - 06/05/2013, 06:53 WIB
|
EditorPalupi Annisa Auliani

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com — Partai berkuasa Malaysia diperkirakan bakal memperpanjang kekuasaan sebagai hasil pemilu negara itu yang digelar Minggu (5/5/2013). Kantor berita Bernama melapokan, perkiraan kemenangan koalisi Barisan Nasional yang sudah berkuasa di negeri tersebut selama 56 tahun terakhir merupakan hasil perhitungan suara dari Komisi Pemilihan Malaysia.

Koalisi Barisan Nasional mengusung petahana Perdana Menteri Najib Razak. Dia sudah menempati jabatannya sejak 2009 dan diperkirakan bakal memenangi pemilu yang disebut paling panas dengan angka pemilih tinggi ini.

Penantang Najib adalah Anwar Ibrahim, yang pernah menjadi "putra mahkota" Perdana Menteri Mahathir Mohamad ketika Anwar menjadi deputinya. Nasib Anwar terjungkal dengan beragam tuduhan, justru menjelang suksesi untuk menggantikan Mahathir, dan Najib yang akhirnya menempati kursi Perdana Menteri Malaysia.

Pemilu ini disebut sebagai pemilihan dengan partisipasi yang sangat tinggi. Komisi Pemilihan Malaysia menyebutkan 80 persen pemilih menggunakan hak pilih.

Menjelang hari pemungutan suara, Malaysia diwarnai dengan beragam ancaman, dari ledakan, ancaman pembunuhan menggunakan layanan pesan, hingga aksi kekerasan berupa pemukulan. Isu manipulasi data pemilih juga menyeruak pada hari-hari terakhir menjelang pemilu, terutama setelah tinta penanda pemilih ternyata hilang saat dicuci menggunakan air.

"Tujuan memperkenalkan tinta tak terhapuskan adalah untuk menghapus pemilih ganda, tetapi kini terganggu oleh tinta berkualitas rendah," kecam Maria Chin Abdullah dari BERSIH 2.0, yang menggalang kampanye untuk reformasi pemilu. Dia pun berpendapat dalih yang dilontarkan Komisi Pemilihan Malaysia, konyol.

Komisi Pemilihan Malaysia menyatakan persoalan tinta hilang saat dicuci dengan air itu disebabkan panitia lupa terlebih dahulu mengocok botol tinta sebelum menggunakannya. Komisi Pemilihan Malaysia berupaya menepis kekhawatiran soal tinta ini dengan mendemonstrasikan penggunaan tinta yang tepat dan hasilnya.

Ibrahim, mantan Menteri Keuangan dan Wakil Perdana Menteri, pernah mendekam di penjara dengan tuduhan korupsi dan sodomi yang disebut bermuatan politik. Tuduhan sodomi pertama pada 2004 sudah bisa dimentahkan di pengadilan. Namun, tuduhan serupa muncul lagi pada 2012. Pelaku kasus sodomi di Malaysia terancam hukuman maksimal 20 tahun penjara.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.