Kompas.com - 03/05/2013, 05:48 WIB
EditorPalupi Annisa Auliani

BOSTON, KOMPAS.com Dua pekan berlalu sejak tewas dalam baku tembak dengan polisi, Kamis (18/4/2013), jenazah tersangka pelaku peledakan di Maraton Boston, Tamerlan Tsarnaev, diambil dari Kantor Pemeriksa Medis Massachusetts oleh sebuah rumah duka, Kamis (2/5/2013) siang waktu setempat. Namun, penyebab kematian Tamerlan tidak akan diumumkan sampai sertifikat kematiannya diajukan oleh petugas Kota Boston.

Juru Bicara Kantor Pemeriksa Medis Massachusetts, Terrel Harris, menolak menyebutkan siapa yang sudah mengklaim jenazah atau rumah duka mana yang sudah membawa jenazah itu. "(Sementara itu) penyebab kematian baru akan dirilis setelah sertifikat kematian diajukan petugas Kota Boston, paling cepat diperkirakan pada Jumat (3/5/2013) pagi (waktu setempat)," ujar Harris, seperti dikutip CNN.

Ledakan di Maraton Boston menewaskan tiga orang dan melukai sekitar 260 orang. Empat orang telah dikenakan tuduhan terkait peledakan ini, selain Tamerlan yang tewas setelah ditembak polisi dalam sebuah operasi penangkapan. Empat tersangka lain termasuk adik Tamerlan, Dzhokhar Tsarnaev, dan tiga temannya, yaitu Dias Kadyrboyev, Azamat Tazhayakov, dan Robel Phillipos.

Dias dan Azamat, Rabu (1/5/2013), didakwa bersekongkol membuang barang-barang yang dapat dipakai untuk memperberat dakwaan pada Dzhokhar. Barang-barang yang dibuang keduanya antara lain kotak kosong petasan. Sementara itu, Robel dikenakan tuduhan membuat pernyataan palsu kepada penyidik.

Dzhokhar yang menderita luka tembak di kepala, leher, kaki, dan tangan kini berada di fasilitas kesehatan Biro Penjara Federal di Devens, Massachusetts. Dia akan menghadapi dakwaan penggunaan senjata pemusnah massal, dan terancam hukuman mati bila terbukti.

Otoritas setempat berkeyakinan kakak beradik Tsarnaev bertindak sendirian dalam aksi peledakan itu, tetapi tetap melakukan penyelidikan apakah mereka berdua mendapat bantuan dari kelompok teroris termasuk dari luar negeri. Pada 2012, Tamerlan diketahui melakukan perjalanan ke Dagestan, sebuah daerah semi-otonom di Rusia, yang merupakan basis kelompok militan melawan pemerintahan Moskwa.

Pemerintah Rusia menyatakan pernah meminta pejabat Amerika Serikat menyelidiki Tamerlan, beberapa bulan sebelum perjalanan Tamerlan ke Dagestan. Saat itu FBI memenuhi permintaan itu tetapi tak menemukan bukti aktivitas ektremis dilakukan Tamerlan, dan menutup kasus tersebut. Belakangan pejabat Amerika mendapatkan informasi bahwa Rusia telah menyadap pembicaraan telepon Tamerlan dan ibunya sejak 2011.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.