Warga AS Dihukum 15 Tahun Kerja Paksa

Kompas.com - 03/05/2013, 03:05 WIB
Editor

SEOUL, KAMIS - Pengadilan Tinggi Korea Utara menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara ditambah kerja paksa terhadap seorang warga negara Amerika Serikat, yang sebelumnya dituduh hendak menumbangkan pemerintahan negeri komunis itu.

Pae Jun-ho, warga negara AS keturunan Korea yang juga dikenal dengan nama Barat Kenneth Bae, sebelumnya bekerja sebagai operator wisata AS-Korea. Pihak AS telah meminta Bae agar diampuni dan dilepas dari jerat hukuman.

Pyongyang diyakini akan memanfaatkan hal itu sebagai bahan tawar-menawar demi mendapat konsesi tertentu.

Pengadilan atas Bae digelar 30 April lalu, seperti diwartakan media massa Pemerintah Korut, KCNA. Tuduhan atas pria berusia 44 tahun itu tak diperinci, tetapi dalam pemberitaannya KCNA menyebut Bae telah mengakui kesalahan.

Do Hee-yoon, aktivis yang berbasis di Seoul, Korea Selatan, mengaku curiga, Bae ditangkap setelah memotret seorang anak Korut bertubuh kurus kering yang kelaparan. Foto itu sedianya dipakai untuk bahan kampanye mencari donasi kemanusiaan.

Washington meminta Pyongyang melepas Bae atas pertimbangan ”kemanusiaan”, apalagi Bae masuk dengan visa resmi.

Januari lalu politisi AS, Bill Richardson, diketahui gagal mengupayakan pembebasan Bae. Dia datang ke Pyongyang bersama pemimpin Google, Eric Schmidt. Kegagalan itu mengundang reaksi dan kritik keras dari dalam negeri AS.

Bukan satu-satunya

Bae diketahui bukanlah satu- satunya warga AS yang pernah ditahan di Korut, tetapi justru dapat dibebaskan. Pada 2011 delegasi AS sukses melepas pebisnis California, Eddie Jun Yong-su. Dia ditahan lantaran aktivitas misionarisnya.

Sementara pada 2010 mantan Presiden AS Jimmy Carter sukses menegosiasikan pembebasan Aijalon Mahli Gomes. Aijalon dihukum 8 tahun kerja paksa setelah tertangkap masuk secara ilegal ke Korut dari perbatasan China.

Upaya pembebasan sukses lainnya adalah ketika mantan Presiden AS Bill Clinton berhasil membebaskan dua jurnalis televisi AS, Laura Ling dan Euna Lee. Keduanya ditangkap setelah dianggap berkeliaran di wilayah perbatasan China-Korut.

Pakar masalah Korut, Yang Moo-jin, dari Universitas Studi Korut di Seoul, Korsel, menilai, bukan tak mungkin Korut kembali mencoba mencari untung.

Meski begitu, Yang menambahkan, kondisi sekarang sangat jauh berbeda dan memperumit upaya pembebasan. Hal itu terutama karena perkembangan situasi seputar hubungan diplomatik dan militer saat ini yang jauh lebih menegangkan.

”Pihak AS juga tak akan begitu saja, misalnya, mengubah posisi demi menyelamatkan seorang warga negaranya itu,” ujar Yang.

Lebih lanjut di Jakarta, seusai menerima kunjungan dan menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan, Indonesia dan China meminta semua pihak terkait krisis di Semenanjung Korea bisa bersama-sama menahan diri.

”Juga disepakati perlunya pembicaraan enam pihak dihidupkan kembali serta mengupayakan pembangunan kembali rasa saling percaya,” ujar Marty.(AFP/DWA)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.