Kompas.com - 02/05/2013, 09:42 WIB
EditorEgidius Patnistik

Paus Fransiskus mengecam buruknya kondisi kerja ratusan buruh yang terperangkap dalam bencana gedung runtuh di Banglades dan menyebut kondisi kerja di pabrik tak ubahnya seperti praktik "perbudakan".

Ratusan orang dinyatakan tewas akibat runtuhnya gedung Rana Plaza di dekat kota Dhaka. Bangunan tersebut merupakan tempat beberapa pabrik garmen, yang sebagian di antaranya memasok perusahaan-perusahaan ritel di negara barat.

Paus mengaku terkejut ketika mengetahui sebagian pekerja hanya dibayar 38 euro atau Rp 490.000 per bulan. "Hari ini di dunia, praktik perbudakan sedang dilakukan menentang sesuatu yang indah yang telah diberikan Tuhan pada kita, yaitu kemampuan untuk mencipta, bekerja, dan memiliki martabat," kata Paus pada khalayak terbatas.

"Tidak membayar upah yang adil, tidak memberikan pekerjaan karena Anda hanya melihat neraca keuangan, untuk mencari keuntungan, adalah hal yang bertentangan dengan Tuhan," sambungnya, seperti dikutip oleh radio Vatikan.

Setidaknya 410 orang tewas dan 140 lainnya dinyatakan hilang menyusul ambruknya bangunan berlantai delapan pekan lalu. Demikan dilaporkan kepolisian dan militer setempat. Sementara 2.500 orang lainnya dilaporkan menderita luka.

Insiden tersebut menjadi bencana industri terbesar di Banglades. Lebih dari 30 orang tewas yang tidak dapat teridentifikasi telah dikuburkan secara massal pada Rabu (1/5/2013).

Rasa aman

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada peringatan hari buruh di Dhaka, pengunjuk rasa, yang jumlahnya ditaksir 20.000 orang, menuntut hukuman mati bagi pemilik gedung serta perbaikan kondisi kerja. "Saya menginginkan hukuman mati bagi pemilik gedung," kata salah satu pengunjuk rasa berusia 18 tahun, Mongidul Islam Rana, yang bekerja pada pabrik garmen. "Kami ingin upah yang sesuai dan tentu kami ingin mendapatkan pabrik yang lebih aman untuk bekerja."

Di wilayah lain di Dhaka, pengunjuk rasa memegang spanduk-spanduk bertuliskan "Gantung pembunuh, gantung pemilik gedung".

Berbicara pada sebuah reli demonstrasi di kota industri Narayanganj, pemimpin partai oposisi utama Banglades, Khaleda Zia, menuduh pemerintah menyembunyikan fakta terkait jumlah orang yang tewas dan penyebab runtuhnya bangunan.

Dia juga mengklaim jika tentara lebih cepat diberikan kendali untuk operasi evakuasi lebih banyak nyawa bisa diselamatkan.

Uni Eropa tengah mempertimbangkan "tindakan yang tepat" untuk mendorong perbaikan kondisi kerja di pabrik-pabrik Banglades.

Industri garmen berkontribusi hampir 80 persen dari ekspor Banglades dan menyediakan lapangan kerja bagi sekitar empat juta orang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.