Milisi Lebanon Terseret Pertempuran di Suriah

Kompas.com - 25/04/2013, 02:15 WIB
Editor

Kairo, Kompas - Pertempuran antara pasukan oposisi dan pasukan Pemerintah Suriah yang didukung milisi Hezbollah dari Lebanon berlangsung makin sengit di sekitar kota kecil Al Qusair, dekat perbatasan Lebanon di Provinsi Homs, Suriah, Rabu (24/4).

Pertempuran Al Qusair itu merupakan perang yang mulai berdimensi regional karena keterlibatan langsung milisi Hezbollah itu.

Keterlibatan Hezbollah ini mendorong kelompok anti-Suriah dan anti-Hezbollah di Lebanon mengumumkan mobilisasi untuk ikut berperang membantu pihak oposisi.

Imam Masjid Taqwa di kota Tripoli, Lebanon utara, Sheikh Salim Rafii, menyerukan agar kaum Sunni Lebanon mengangkat senjata membantu kubu oposisi Suriah melawan pasukan Presiden Bashar Al-Assad.

Sementara Imam Masjid Bilal Bin Rabbah di kota Sidon, Lebanon selatan, Sheikh Ahmed Al Asir, menyerukan pembentukan gerakan perlawanan terhadap milisi Hezbolllah dan pasukan Assad di Al Qusair dan Homs.

Harian Al Hayat mengungkapkan, sedikitnya 500 pemuda Sunni Lebanon mendaftarkan diri untuk ikut bertempur di Al Qusair.

Demikian dilaporkan wartawan Kompas, Musthafa Abd Rahman, yang memantau perkembangan krisis Suriah dari Kairo, Mesir.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara itu, Deputi Ketua Dewan Eksekutif Hezbollah Nabil Farouk mengatakan, keterlibatan Hezbollah dalam pertempuran Al Qusair merupakan kewajiban nasional karena dilakukan untuk melindungi warga Lebanon yang berdomilisi di wilayah sekitar Al Qusair.

Wilayah Al Qusair diperebutkan karena memang sangat strategis. Kota itu dan wilayah sekitarnya menghubungkan wilayah pesisir Suriah dengan wilayah Provinsi Homs dan Hama di bagian tengah negara itu. Kawasan itu juga menjadi akses menuju arah barat dan selatan ke wilayah Lebanon.

Pertempuran Al Qusair dimulai bersamaan dengan digelarnya pertemuan kelompok Sahabat Suriah di Istanbul, Turki, Sabtu lalu. Sejumlah pengamat menyebutkan, pertempuran Al Qusair merupakan reaksi Rusia, Iran, dan rezim Presiden Assad terhadap pertemuan itu.

Dunia harus bersatu

Di sela-sela kunjungannya ke Myanmar, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menyerukan agar dunia segera bersatu untuk menghentikan tragedi kemanusiaan di Suriah.

”Keadaan di Suriah sudah tidak bisa dibiarkan begitu saja. Korban berjatuhan setiap hari, termasuk mereka yang tidak berdosa, dan belum ada tanda-tanda tragedi kemanusiaan di Suriah akan berakhir,” kata Presiden Yudhoyono, Rabu, seperti dilaporkan wartawan Kompas, C Wahyu Haryo PS, dari ibu kota Myanmar, Naypyidaw.

Ironisnya, dunia juga belum bisa bersatu melakukan tindakan nyata. Dalam pandangan Yudhoyono, jika dunia tidak bisa bertindak untuk mencegah tragedi dan kerusakan yang lebih besar di Suriah, sejarah akan menyalahkan dunia saat ini.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.