Kompas.com - 22/04/2013, 14:04 WIB
EditorEgidius Patnistik

BANGKOK, KOMPAS.com - Myanmar telah mengobarkan "kampanye pembersihan etnis" terhadap warga Muslim Rohingya, kata lembaga pemantau hak asasi terkemuka, Human Rights Watch (HRW), Senin (22/4), dengan mengutip bukti berupa kuburan massal dan pemindahan paksa.

HRW yang berbasis di New York mengatakan, orang-orang Rohingya, yang ditolak kewarganegaraannya oleh Myanmar yang juga dikenal sebagai Burma itu, menghadapi kejahatan terhadap kemanusiaan termasuk pembunuhan, penganiayaan, deportasi dan pemindahan paksa. Para pejabat Myanmar, tokoh-tokoh masyarakat dan agama mengorganisir dan mendorong massa yang didukung pasukan keamanan negara untuk melakukan serangan terkoordinasi di desa-desa Muslim pada Oktober lalu di negara bagian Rakhine di sebelah barat negara itu, kata HRW.

"Pemerintah Burma terlibat dalam sebuah kampanye pembersihan etnis terhadap orang Rohingya yang berlanjut hari ini melalui penolakan bantuan dan pembatasan pergerakan," kata Wakil Direktur HRW Asia, Phil Robertson. HRW menegaskan, walau pembersihan etnis bukan sebuah istilah hukum formal, istilah itu secara umum didefinisikan sebagai kebijakan oleh satu kelompok etnis atau agama untuk menghapus kelompok lain dari daerah tertentu dengan cara-cara kekerasan dan teror.

Menurut HRW, di Rakhine, lebih dari 125.000 warga Rohingya dan Muslim lainnya telah dipindahkan secara paksa, ditolak akses ke bantuan kemanusiaan dan tidak dapat kembali ke rumah.

Setidaknya 180 orang tewas dalam dua peristiwa kekerasan antara etnis di Rakhine sejak Juni 2012, menurut angka resmi. Namun kelompok-kelompok HAM yakin bahwa angka sebenarnya jauh lebih tinggi. Dalam sebuah laporan yang didasarkan pada lebih dari 100 wawancara, HRW mengatakan bahwa pihaknya telah menemukan bukti empat lokasi kuburan massal di Rakhine. Lembaga itu menuduh, pasukan keamanan mencoba untuk menghancurkan bukti-bukti kejahatan.

Dalam sebuah contoh pada Juni, kata lembaga itu, sebuah truk pemerintah membuang 18 mayat telanjang dan setengah telanjang di dekat sebuah kamp pengungsi Rohingya. Tidakan itu digambarkan sebagai upaya untuk menakut-nakuti warga agar pergi secara permanen.

Ribuan warga Rohingya telah melarikan diri dari Myanmar sejak Juni dengan menaiki kapal-kapal reyot. Sebagian besar diyakini menuju Malaysia. Myanmar menganggap warga Rohingya, sekitar 800.000 orang, sebagai imigran ilegal dari Banglades.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kaum Muslim lain juga menjadi sasaran dalam kekerasan bulan lalu di Myanmar tengah, di mana setidaknya 43 orang tewas. HRW menuduh otoritas pemerintah menghancurkan sejumlah masjid dan melakukan penangkapan massal di Rakhine. HRW juga mengatakan, pasukan keamanan hanya "menonton atau membantu" massa menyerang komunitas Muslim.

Sejauh ini, belum ada reaksi dari pemerintah Myanmar atas laporan itu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.