Venezuela Akan Audit Pemilu

Kompas.com - 20/04/2013, 04:38 WIB
Editor

Caracas, Jumat - Dewan Pemilu Nasional Venezuela akhirnya bersedia mengaudit 46 persen suara yang belum diperiksa pada malam pemilu. Namun, presiden terpilih Nicolas Maduro dari Partai Sosialis yang berkuasa tetap dijadwalkan untuk dilantik pada Jumat (19/4) waktu setempat.

”Kami berada di posisi di mana kami ingin berada,” kata kandidat oposisi, Henrique Capriles, setelah Dewan Pemilu Nasional (CNE) menyampaikan keputusan itu, Kamis malam.

Capriles sebelumnya menuntut penghitungan ulang penuh. Namun, dia akhirnya menerima keputusan CNE. Di sisi lain, keputusan CNE ini menandai perubahan sikap kubu Partai Sosialis, yang sehari sebelumnya berkeras tak setuju dengan audit penghitungan suara.

Maduro, yang jadi ahli waris almarhum Presiden Hugo Chavez, dijadwalkan dilantik pada Jumat siang di ibu kota Caracas. Hingga Kamis malam, dia masih berada di Lima, Peru, menghadiri pertemuan darurat pemimpin Amerika Selatan yang membicarakan krisis pemilu tersebut.

Dalam pertemuan di Lima itu, Maduro menerima dukungan para pemimpin kawasan. Para presiden dari Amerika Selatan itu pada Jumat dini hari mengeluarkan pernyataan yang antara lain berisi ”memberi selamat kepada Presiden Nicolas Maduro yang terpilih sebagai presiden”.

Kelompok di Lima itu ”mendesak semua pihak yang terlibat dalam proses pemilu untuk menghormati hasil resmi pemilu presiden”.

Menekan

Pertemuan darurat pemimpin Amerika Latin itu dimulai pada Kamis. Tidak jelas apakah para pemimpin yang hadir—seperti Presiden Brasil Dilma Rousseff yang memiliki pengaruh paling besar—telah menekan Maduro untuk menerima audit itu.

Maduro, dalam sebuah pesan Twitter, menyatakan, pertemuan di Lima itu merupakan suatu keberhasilan besar.

”Dukungan sepenuhnya untuk rakyat dan demokrasi Venezuela,” tutur Maduro. ”Terima kasih, Amerika Selatan! Saya menanti Anda di Caracas.”

Maduro tidak pernah menolak audit itu secara terbuka. Hal ini mungkin karena tekanan militer atau kelompok lebih moderat di kubu Partai Sosialis. Adapun Maduro memimpin faksi yang diperkirakan lebih radikal.

Kelompok pendukung Chavez, yang disebut Chavistas, menguasai semua tuas kekuasaan di Venezuela sehingga putusan otoritas pemilu itu dipandang punya izin dari pemerintah.

Capriles, yang menuntut penghitungan ulang setelah dinyatakan kalah dengan margin 1,8 persen, menerima keputusan yang diumumkan oleh Ketua CNE Tibisay Lucena.

Lucena mengatakan, audit yang diperluas itu bukanlah penghitungan ulang. Namun, itu berupa audit semua kotak suara yang tidak diaudit pada hari pemilu dan peninjauan ulang sampel dua pertiga dari suara itu selama 30 hari mendatang.

Capriles mengucapkan selamat kepada para pendukungnya atas ”perjuangan mereka untuk kebenaran”.

”Kami percaya masalahnya ada dalam 12.000 kotak ini, dan kami bisa memperlihatkan kebenaran pada bangsa,” katanya.

Para pemimpin Amerika Selatan telah menyatakan hadir untuk pelantikan. (AP/AFP/DI)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.