Kompas.com - 14/04/2013, 00:53 WIB
EditorJodhi Yudono

JAKARTA, KOMPAS.com--Tepuk tangan berkali-kali terdengar di pementasan drama tari "Selendang Merah" yang berlangsung di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki Jakarta pada 13 April 2013. Terutama pada beberapa adegan lucu yang dipamerkan oleh para pemeran drama tari tersebut. Misalnya saat mereka beradegan berfoto dengan berbagai gaya lucu.

Tak cuma itu, tiap kali adegan berlangsung menggetarkan lantaran pemain di panggung sedemikian total penjiwaannya, penonton juga tak segan-segan memberi hadiah tepukan tangan.

Terlebih saat pertunjukan usai, tepuk tangan panjang pun berkumandang memberi penghormatan kepada para pendukung pertunjukan yang didukung oleh Djarum Apresiasi Budaya ini.

Situasi ini berbanding terbalik ketika "Selendang Merah" dipentaskan di Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada 6 April 2013, di mana penonton pada malam itu tampak sangat serius mengikuti pertunjukan. Menurut dalang muda Nanang Hape, begitulah 'adat' penonton seni Solo.

"Kalau pertunjukannya bagus mereka diam, tapi kalau jelek mereka cela-cela. Solo adalah test case untuk pertunjukan seni bermutu," tutur Nanang seusai pertunjukan di Teater Jakarta.

Barangkali lantaran penonton di Teater Jakarta sedemikian responsifnya, maka para pemain pun terasa lebih rileks dan leluasa mengekspresikan gerak dan aktingnya.

Jika ada yang mengganjal pada pertunjukan di Sabtu sore itu, lantaran ada suara yang bocor saat adegan di panggung justru sedang serius, "buat apaan sih pak, di mana?" kata suara perempuan yang mendadak muncul itu.

Tentang "Selendang Merah"

Lakon drama tari "Selendang Merah" adalah bagian terakhir dari trilogi drama tari "Opera Jawa" karya Garin Nugroho. "Selendang Merah" menggenapi 'perjalanan' delapan tahun "Opera Jawa" yang terus bertransformasi. Dimulai dari karya film untuk peringatan 250 tahun meninggalnya seniman dunia Amadeus Mozart, sebuah karya instalasi, disusul dengan drama tari "Ranjang Besi", "Tusuk Konde", dan "Selendang Merah".

Trilogi Opera Jawa sesungguhnya meletakkan Jawa sebagai multikultur di tengah multikultur
Indonesia. Maka meski berfokus Jawa, maka tetaplah muncul unsur unsur dari ke-Indonesia-an,
misal unsur budaya Minang hingga Nias. Selain mengolah cerita, Garin juga cukup piawai dalam
mencari pemain-pemain yang cocok untuk setiap pertunjukannya, tak terkecuali pada “Opera Jawa: Selendang Merah” ini. Sruti Respati didapuk sebagai pemeran utama didukung oleh nama-nama yang sudah matang di dunia teater, yakni Endah Laras, Heru, dan Anggono Kusumo.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X