Kompas.com - 11/04/2013, 06:38 WIB
|
EditorPalupi Annisa Auliani

LONDON, KOMPAS.com — Ilmuwan peraih Nobel sebagai pelopor percobaan bayi tabung, Robert Geoffrey Edwards, meninggal karena sakit berkepanjangan, Rabu (10/4/2013). Dia adalah pelopor teknologi in vitro fertilization (IVF).

"Dengan duka yang mendalam, keluarga mengabarkan bahwa Profesor Sir Robert Edwards, peraih penghargaan Nobel, ilmuwan dan penemu bersama IVF, telah berpulang dengan damai dalam tidurnya," demikian pernyataan dari University of Cambridge, Rabu (10/4/2013). Disebutkan, kepergiannya membawa kehilangan yang besar bagi keluarga dan para sahabat serta rekan kerjanya.

Edwards mendapatkan Nobel di bidang kedokteran pada 2010. Penelitiannya tentang kesuburan manusia dimulai pada 1950. Hasil penelitiannya merupakan dasar dari bayi tabung pertama di dunia, Louise Brown, yang lahir pada 1978.

Pada 1980, Edwards mendirikan klinik bayi tabung pertama di dunia, di kampung halamannya di Cambridge, kawasan timur Inggris.

Karya Edward

Pada akhir 1970-an, Edward bersama Dr Patrick Stepoe menjadi terkenal setelah berhasil membangun teknik IVF dengan kelahiran Louise. Meski disambut gembira oleh jutaan pasangan di dunia yang kesulitan mendapatkan anak, karya mereka mendapatkan kritik dari Vatikan. Selain mendapatkan Nobel di bidang kedokteran pada 2010, Edwards juga mendapat gelar kesatria pada 2011 untuk pelayanannya pada bidang biologi reproduksi manusia.

Martin Johnson, Profesor di bidang reproduksi University of Cambridge sekaligus murid pertama Edwards di bidang ini, menyebut Edwards sebagai sosok luar biasa yang sudah mengubah hidup banyak orang dengan karyanya. "Tidak hanya visioner di bidang keilmuannya, tetapi juga membangun komunikasi dengan masyarakat luas tentang hal-hal ilmiah. Dia pionir hebat," kata dia.

Mike Macnamee, Chief Executive Bourn Hall, the IVF Clinic, yang didirikan Steptoe dan Edwards, mengatakan, Edwards adalah salah satu ilmuwan terhebat yang pernah ada. "Dia melakukan pekerjaan inspirasional di awal 1960-an, menjadi terobosan yang mengangkat hidup jutaan orang di seluruh dunia," ujar dia.

Menurut Macnamee, Edwards punya pengaruh luar biasa kepada semua orang yang pernah bekerja sama bersamanya maupun yang pernah dirawatnya. "Untuk saya pribadi, Edwards adalah mentor hebat, keluarga, dan teman. Itu "hak istimewa" bila bekerja bersamanya. Kepergiannya adalah kehilangan besar bagi kita semua," imbuh dia.

Edward lahir di Manchester, Inggris, 87 tahun lalu. Setelah lulus dari Manchester Central High School, dia masuk ke Angkatan Bersenjata Inggris dan menyelesaikan studi sarjananya di bidang pertanian di Universitas Bangor. Sesudahnya, dia melanjutkan belajar ke Institut Genetika Hewan, University of Edinburg, dan mendapatkan gelar PhD pada 1955. Bergabung pada 1963 di University of Cambridge, Edwards mendapatkan beasiswa ke Churcill College.

Sumber: The Guardian dan beragam sumber.

 

 

 

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.