Mendorong Anak "Bersuara"

Kompas.com - 08/04/2013, 03:09 WIB
Editor

Konvensi PBB tentang Hak Anak tahun 1989 telah diratifikasi banyak negara dan dilanjutkan dengan sejumlah peraturan perundang- undangan. Meski demikian, kebijakan yang dilahirkan belum menyentuh kebutuhan riil anak karena orang dewasa tidak serius mendengarkan ”suara” anak.

Oleh Luki Aulia

If I have brightened up one single sad childhood, then I have at least accomplished something in my life”. Kutipan dari penulis buku dan pejuang hak anak asal Swedia, Astrid Lindgren (1907-2000), ini menginspirasi Swedia, baik pemerintah maupun organisasi nonpemerintah, untuk berusaha memastikan setiap anak (penduduk usia di bawah 18 tahun) menjalani masa kanak-kanak yang aman dan menyenangkan.

Agar bisa benar-benar memahami kebutuhan anak, langkah awal yang terbaik adalah mendengarkan ”suara” atau opini anak. Toh anaklah yang paling memahami dunia kanak-kanak karena mereka yang sedang menjalaninya. Hanya dengan begitu maka orang dewasa akan mampu melihat setiap persoalan dari ”kacamata” atau perspektif anak. Bisa jadi suatu masalah dianggap sangat penting bagi anak, tetapi tidak demikian bagi orang dewasa. Namun, penting atau tidak penting sebuah masalah anak bagi orang dewasa, setiap anak berhak didengarkan. Ini sudah ditegaskan di dalam konvensi hak anak.

Konvensi itu juga menegaskan, setiap anak berhak berpartisipasi dan mengeluarkan pendapat pada setiap rencana kebijakan yang akan memengaruhi kehidupan mereka. Artinya, keputusan atau kebijakan yang diambil harus selalu atas dasar kepentingan anak. Menurut Ombudsman for Children di Swedia, pemerintah kerap membuat kebijakan terkait anak dan remaja tanpa melibatkan anak atau setidaknya melihat sebuah persoalan dari perspektif anak. Ujung-ujungnya, anak lagi-lagi tidak terlindungi dan menjadi korban dari orang dewasa.

Pendekatan khusus

Tidak mudah untuk bisa memahami kebutuhan anak. Tidak mudah pula membiasakan anak untuk berani mengutarakan pendapat atau setidaknya mengungkapkan perasaannya. Butuh kerja keras dan pendekatan khusus terutama jika menyangkut anak atau remaja yang tengah menghadapi situasi sulit seperti anak korban kekerasan. Berbagai metode pendekatan sudah dilakukan pemerintah dan organisasi nonpemerintah di Swedia, seperti Ombudsman untuk Anak, Save the Children Swedia, friends, dan Children’s Right in Society (Barnens Ratt I Samhallet/BRIS).

Manajer Proyek Ombudsman for Children di Swedia Jorge Rivera mengemukakan, pihaknya selama ini memanfaatkan media rekam melalui kamera dan kamera video untuk menggali cerita dan pengalaman dari anak. Setiap anak diajak membuat video diari (digital stories). Isinya terserah pada setiap anak. Sebab, setiap anak pasti mengalami masalah yang berbeda. Video diari itu lalu diserahkan kepada para pembuat kebijakan sebagai bahan masukan mereka.

”Mereka merekam sendiri ceritanya tanpa ada orang lain di sekitarnya. Mereka awalnya pasti malu untuk cerita kepada orang lain, apalagi kepada orang asing. Sebelum merekam, mereka diberi pelatihan pengenalan. Kami harus beberapa kali bertemu dulu untuk membangun kepercayaan diri mereka,” kata Rivera.

Metode ini dinilai efektif karena banyak persoalan dari kacamata anak yang muncul. Banyak persoalan anak yang selama ini tidak dianggap penting oleh orang dewasa ternyata justru sangat penting bagi anak.

Domestic Programme Officer Children’s Rights in the Society Save the Children Swedia Karin Fagerholm juga membuat situs khusus untuk anak. Semua anak boleh mengunggah video rekamannya ke situs itu. Untuk menggali lebih dalam opini anak, organisasi ini juga melakukan survei melalui forum diskusi yang rutin. Seperti survei yang dilakukan tahun 2011 terhadap 25.544 anak (11.852 perempuan dan 11.774 laki-laki) yang duduk di kelas VI dan VIII di 100 daerah dan sekolah yang berbeda.

Hasil survei itu, antara lain, menunjukkan mayoritas anak Swedia ternyata takut atau tidak pernah merasa aman naik angkutan umum pada malam hari. Sebanyak 30 persen anak juga khawatir mendapat perlakuan kekerasan dari orang dewasa. Sebanyak 59 persen juga merasa stres di sekolah dan 53 persen khawatir tidak akan bisa selesai sekolah. Mayoritas anak, 71 persen, juga merasa kemungkinannya sangat kecil untuk bisa menyuarakan opini mereka kepada para pembuat kebijakan. Padahal, 77 persen responden merasa penting bagi mereka untuk bertemu dan berdiskusi dengan para pembuat kebijakan.

”Kami juga punya kelompok diskusi untuk anak, tetapi mayoritas usia 10-18 tahun. Sulit meraih anak di bawah usia 10 tahun. Kami kesulitan meraih anak yang justru paling butuh bantuan, seperti korban kekerasan, anak berkebutuhan khusus, dan anak tanpa dokumen negara. Susah sekali membuat orangtua dan para pembuat kebijakan untuk memahami partisipasi anak,” kata Fagerholm.

Di Indonesia, metode partisipatif dengan video diari juga sudah digunakan. Salah satunya dilakukan oleh Yayasan Kampung Halaman, di Yogyakarta. Ketua Yayasan Kampung Halaman Dian Herdiany menjelaskan, metode partisipatif melalui video yang sudah dilakukan sejak 2006 digunakan untuk mengangkat suara asli milik komunitas serta cara pandangnya mengenai persoalan yang mereka hadapi. Harapannya, anak dan remaja bisa memberikan kontribusi positif bagi ”Kampung Halaman” tempat mereka tinggal dan berasal sehingga bisa menjadi tempat yang lebih baik untuk tinggal.

”Metode ini membantu anak dan remaja menyadari potensi dan persoalannya melalui proses produksi yang dilakukan. Serta mencari solusi bersama-sama melalui penyebaran atau pemutaran film di masyarakat,” kata Dian.

Kontak personal

Untuk meraih anak-anak yang sedang menghadapi situasi sulit seperti korban kekerasan, terjebak di tengah masalah perceraian orangtua atau terlibat masalah hukum, BRIS menggunakan media telepon, surat dan surat elektronik, serta fasilitas percakapan (chatting) di internet. Pada 2010, BRIS telah menjalin kontak dengan 115.335 anak dan remaja melalui telepon, surat, dan percakapan di internet. Media terakhir itu yang paling populer karena sering digunakan. Cecilia Naucler dari BRIS menjelaskan, anak atau remaja yang menghubungi BRIS hanya ingin menceritakan apa yang mereka alami ke orang lain tanpa diketahui identitasnya.

”Mereka butuh orang dewasa yang memahami situasi yang mereka hadapi,” kata Cecilia.

Masalah yang sering diceritakan anak berkisar masalah hubungan dengan teman, sekolah, konflik keluarga, bullying, atau ketakutan-ketakutan lain. Dalam kurun waktu 2006-2010, anak yang bercerita tentang kekerasan yang mereka alami (fisik, psikis, dan seksual) meningkat dari 3.194 kontak menjadi 3.792 kontak. Dalam sehari, setidaknya ada 500.000-600.000 kontak yang masuk, tetapi hanya sekitar 70.000-80.000 kontak yang sanggup ditangani 600 relawan BRIS di lima kota di Swedia.

Untuk membicarakan masalah sensitif, seperti kekerasan, anak lebih memilih menggunakan media helpline service BRIS 116 111 (66 persen), surat elektronik (21 persen), dan fasilitas chatting (13 persen). ”Anak dan remaja didorong untuk berani mengutarakan perasaan dan pengalamannya tanpa merasa terancam. Biasanya mereka sulit bicara dengan orang dewasa karena takut diremehkan,” kata Cecilia.

Dari beragam metode yang digunakan, tujuannya tetap sama: memberdayakan dan membangun kepercayaan diri anak agar mereka mampu ”bersuara” dengan lantang kepada orang dewasa.

Berbekal kumpulan ”suara” anak, Pemerintah Swedia sedikit demi sedikit melahirkan kebijakan yang benar-benar berperspektif anak. Banyak hal yang sebenarnya dapat dipelajari dari anak dan remaja hanya jika kita mau mendengar.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X