Mendorong Anak "Bersuara"

Kompas.com - 08/04/2013, 03:09 WIB
Editor

Domestic Programme Officer Children’s Rights in the Society Save the Children Swedia Karin Fagerholm juga membuat situs khusus untuk anak. Semua anak boleh mengunggah video rekamannya ke situs itu. Untuk menggali lebih dalam opini anak, organisasi ini juga melakukan survei melalui forum diskusi yang rutin. Seperti survei yang dilakukan tahun 2011 terhadap 25.544 anak (11.852 perempuan dan 11.774 laki-laki) yang duduk di kelas VI dan VIII di 100 daerah dan sekolah yang berbeda.

Hasil survei itu, antara lain, menunjukkan mayoritas anak Swedia ternyata takut atau tidak pernah merasa aman naik angkutan umum pada malam hari. Sebanyak 30 persen anak juga khawatir mendapat perlakuan kekerasan dari orang dewasa. Sebanyak 59 persen juga merasa stres di sekolah dan 53 persen khawatir tidak akan bisa selesai sekolah. Mayoritas anak, 71 persen, juga merasa kemungkinannya sangat kecil untuk bisa menyuarakan opini mereka kepada para pembuat kebijakan. Padahal, 77 persen responden merasa penting bagi mereka untuk bertemu dan berdiskusi dengan para pembuat kebijakan.

”Kami juga punya kelompok diskusi untuk anak, tetapi mayoritas usia 10-18 tahun. Sulit meraih anak di bawah usia 10 tahun. Kami kesulitan meraih anak yang justru paling butuh bantuan, seperti korban kekerasan, anak berkebutuhan khusus, dan anak tanpa dokumen negara. Susah sekali membuat orangtua dan para pembuat kebijakan untuk memahami partisipasi anak,” kata Fagerholm.

Di Indonesia, metode partisipatif dengan video diari juga sudah digunakan. Salah satunya dilakukan oleh Yayasan Kampung Halaman, di Yogyakarta. Ketua Yayasan Kampung Halaman Dian Herdiany menjelaskan, metode partisipatif melalui video yang sudah dilakukan sejak 2006 digunakan untuk mengangkat suara asli milik komunitas serta cara pandangnya mengenai persoalan yang mereka hadapi. Harapannya, anak dan remaja bisa memberikan kontribusi positif bagi ”Kampung Halaman” tempat mereka tinggal dan berasal sehingga bisa menjadi tempat yang lebih baik untuk tinggal.

”Metode ini membantu anak dan remaja menyadari potensi dan persoalannya melalui proses produksi yang dilakukan. Serta mencari solusi bersama-sama melalui penyebaran atau pemutaran film di masyarakat,” kata Dian.

Kontak personal

Untuk meraih anak-anak yang sedang menghadapi situasi sulit seperti korban kekerasan, terjebak di tengah masalah perceraian orangtua atau terlibat masalah hukum, BRIS menggunakan media telepon, surat dan surat elektronik, serta fasilitas percakapan (chatting) di internet. Pada 2010, BRIS telah menjalin kontak dengan 115.335 anak dan remaja melalui telepon, surat, dan percakapan di internet. Media terakhir itu yang paling populer karena sering digunakan. Cecilia Naucler dari BRIS menjelaskan, anak atau remaja yang menghubungi BRIS hanya ingin menceritakan apa yang mereka alami ke orang lain tanpa diketahui identitasnya.

”Mereka butuh orang dewasa yang memahami situasi yang mereka hadapi,” kata Cecilia.

Masalah yang sering diceritakan anak berkisar masalah hubungan dengan teman, sekolah, konflik keluarga, bullying, atau ketakutan-ketakutan lain. Dalam kurun waktu 2006-2010, anak yang bercerita tentang kekerasan yang mereka alami (fisik, psikis, dan seksual) meningkat dari 3.194 kontak menjadi 3.792 kontak. Dalam sehari, setidaknya ada 500.000-600.000 kontak yang masuk, tetapi hanya sekitar 70.000-80.000 kontak yang sanggup ditangani 600 relawan BRIS di lima kota di Swedia.

Untuk membicarakan masalah sensitif, seperti kekerasan, anak lebih memilih menggunakan media helpline service BRIS 116 111 (66 persen), surat elektronik (21 persen), dan fasilitas chatting (13 persen). ”Anak dan remaja didorong untuk berani mengutarakan perasaan dan pengalamannya tanpa merasa terancam. Biasanya mereka sulit bicara dengan orang dewasa karena takut diremehkan,” kata Cecilia.

Dari beragam metode yang digunakan, tujuannya tetap sama: memberdayakan dan membangun kepercayaan diri anak agar mereka mampu ”bersuara” dengan lantang kepada orang dewasa.

Berbekal kumpulan ”suara” anak, Pemerintah Swedia sedikit demi sedikit melahirkan kebijakan yang benar-benar berperspektif anak. Banyak hal yang sebenarnya dapat dipelajari dari anak dan remaja hanya jika kita mau mendengar.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X