Kompas.com - 05/04/2013, 23:47 WIB
EditorPalupi Annisa Auliani

JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia akan mempromosikan tiga konsep konektivitas, yaitu sektor fisik, institusional, dan perorangan di Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2013. Konsep yang diajukan ini diharapkan dapat meningkatkan integrasi dan ketahanan di kawasan.

"Kita terus melihat banyak pandangan tentang konektivitas di Pasifik, konsep konektivitas ini perlu diperkuat untuk mendukung pasar domestik dan mancanegara," kata Staf Ahli Menteri Luar Negeri RI Bidang Ekonomi, Sosial, dan Budaya, Wahid Supriyadi, yang juga Alternate Senior Offiicial Indonesia untuk APEC di Jakarta, Jumat (5/4/2013). Menurut dia, ketiga konsep tersebut dapat menjadi acuan untuk mengakomodasi arus dan pergerakan barang-jasa serta individu di wilayah lintas Pasifik, termasuk Asia dan Amerika Selatan.

Konektivitas fisik merupakan pembangunan infrastruktur perdagangan, perjalanan, energi, dan telekomunikasi yang dapat memudahkan arus ekonomi di kawasan Asia Pasifik. Menurut Wahid, Indonesia masih perlu membenahi banyak kondisi konektivitas fisik nasional dalam negeri sehingga mendukung proses aktif di ASEAN dan Asia Pasifik.

"Indonesia, konektivitas dalam negeri masih rendah dengan indeks konektivitas 2,01 lebih rendah di bawah Vietnam 2,73. Namun, pertumbuhan ekonominya cukup baik di atas enam persen. Kita bisa bayangkan bagaimana pertumbuhan ekonomi jika konektivitasnya juga bagus," ujar Wahid.

Konektivitas institusional melingkupi isu-isu perdagangan dan investasi yang besifat tidak langsung atau behind the border issues. Dalam konteks institusional juga dibahas mengenai koordinasi antarinstitusi, mekanisme, dan proses ekonomi di APEC, seperti reformasi regulasi. Adapun konektivitas perorangan melingkupi pegerakan antarpenduduk dan kalangan profesional di APEC yang didorong dengan pariwisata, pendidikan, dan mobilitas tenaga kerja.

Menurut ekonom senior Bank Dunia, Sjamsu Rahardja, reformasi regulasi untuk Indonesia dapat menjadi upaya penyederhanaan mekanisme untuk mendukung proses perdagangan di kawasan. Sjamsu menganggap sering terjadi salah pengertian dalam memahami reformasi regulasi. 

"Jangan disalahartikan. Reformasi regulasi tidak selalu berarti `liberalisasi`, tetapi `simply` untuk fleksibilitas mekanisme," ujar Sjamsu. Pada konektivitas perorangan, kata Sjamsu, tiap-tiap negara perlu memperkuat sumber daya manusia untuk mendukung semua konsep dari kegiatan perdagangan yang berkaitan juga dengan infrastruktur (fisik) dan institusional.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tiga konsep konektivitas ini merupakan salah satu tema di APEC 2013, selain mewujudkan "Bogor Goals" yang membahas perluasan perdagangan, investasi, serta reformasi struktural dan kemudian tema mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dan merata. (Indra Arief Pribadi/Ruslan Burhani)

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.