Kompas.com - 05/04/2013, 13:58 WIB
EditorEgidius Patnistik

MEDAN, KOMPAS.com - Sekelompok Muslim Myanmar memukul hingga tewas delapan rekan senegaranya yang beragama Buddha di sebuah pusat penahanan di Medan, Jumat (5/4), setelah mereka mendengar kekerasan komunal di tanah airnya, kata polisi.

Sekelompok orang Muslim itu menyerang rekannya yang Buddha pada Jumat dini di pusat penahanan imigrasi Pelabuhan Belawan, Provinsi Sumatera Utara, kata kepala polisi setempat, Endro Kiswanto. Perisitwa itu, kata Endro seperti dikutip kantor berita AFP, bermula setelah para tahanan mengetahui kekerasan antara kedua kelompok itu baru-baru ini di Myanmar yang telah menyebabkan sedikitnya 43 orang tewas dan banyak rumah orang dan masjid hancur.

"Mereka bisa melihat sejumlah foto kekerasan di Myanmar, termasuk sejumlah bangunan yang terbakar, dan kami yakin bahwa saat itulah kekerasan pecah," kata Endro kepada AFP. Dia mengatakan kedelapan orang itu telah tewas saat polisi tiba di pusat penahanan itu Jumat dini hari, dan 15 orang lainnya luka-luka.

Heru Prakoso, juru bicara Polda Sumatera Utara kepada AFP mengatakan, para tahanan berkelahi dengan menggunakan potongan kayu yang tajam. Mereka yang tewas "dipukul hingga tewas dengan kayu", katanya. Pusat penahanan Belawan itu menampung 280 pencari suaka dan nelayan ilegal dari Myanmar, kata Prakoso.

Sejumlah kapal yang membawa para pencari suaka yang melarikan diri dari kekerasan sektarian di Myanmar semakin banyak yang berakhir di pantai-pantai Indonesia. Banyak dari mereka menghadapi proses yang panjang dalam tahanan untuk menunggu penilaian PBB dalam mendapatkan status sebagai pengungsi.

Kekerasan komunal bulan lalu di Myanmar telah menyebabkan lebih dari 1.300 rumah dan bangunan lainnya hancur, demikian menurut media negara itu. Sebanyak 68 orang telah ditangkap terkait dengan kerusuhan itu, yang telah menyebabkan 11.376 orang kehilangan tempat tinggal, lapor New Light of Myanmar.

Bentrokan terakhir itu tampaknya dipicu oleh perdebatan di sebuah toko emas di kota Meiktila yang berubah menjadi kerusuhan. Namun sejumlah saksi mata mengatakan gelombang kekerasan yang terjadi sejak saat itu tampaknya telah terorganisir dengan baik. Itu adalah konflik sektarian terburuk sejak kekerasan antara umat Buddha dan Muslim di negara bagian Rakhine yang terletak di barat Myanmar tahun lalu menewaskan sedikitnya 180 orang tewas.

Human Rights Watch (HRW) minggu ini mendesak Myanmar untuk menyelidiki kegagalan polisi menghentikan kekerasan tersebut. "Pemerintah harus menyelidiki mereka yang bertanggung jawab atas kekerasan di Meiktila dan kegagalan polisi menghentikan pembunuhan dan pembakaran kawasan pemukiman," kata Direktur Asia HRW, Brad Adams.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.