Kompas.com - 02/04/2013, 02:10 WIB
EditorErvan Hardoko

NEW DELHI, KOMPAS.com — Jumlah wisatawan asing perempuan ke India menurun hingga 35 persen dalam tiga bulan belakangan setelah serangkaian kasus pemerkosaan beramai-ramai menjadi sorotan media internasional.

Asosiasi Kamar Dagang dan Industri India (ASSOCHAM) dalam penelitiannya menyebut jumlah total wisatawan asing ke India menurun 25 persen dibanding tahun lalu. Para wisatawan itu kini lebih memilih mengunjungi Malaysia atau Thailand.

Sejak akhir tahun lalu serangkaian kasus pemerkosaan beramai-ramai yang terjadi di India menghiasi berbagai media internasional. Hal ini diawali dengan kasus pemerkosaan dan pembunuhan seorang mahasiswi New Delhi pada Desember lalu.

Tak berhenti di situ, bulan lalu seorang wisatawan asal Swiss diperkosa beramai-ramai di hadapan suaminya di Negara Bagian Madhya Pradesh. Pada Januari, di negara bagian yang sama, seorang turis Korea Selatan dibuat mabuk lalu diperkosa oleh putra pemilik hotel tempat turis itu menginap.

"Sejumlah kejadian ini menimbulkan kekhawatiran, khususnya terhadap keamanan para wisatawan perempuan di India," kata Sekjen ASSOCHAM DS Rawat, yang melakukan survei terhadap 1.200 agen wisata di beberapa kota di India.

Angka yang diperoleh ASSOCHAM berbanding terbalik dengan temuan Kementerian Pariwisata India yang mengklaim jumlah wisawatan asing di India meningkat di awal 2013.

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata India, jumlah wisatawan asing yang tiba di India pada Februari meningkat 1,6 persen dibanding masa yang sama tahun lalu.

Direktur Eksekutif Asosiasi Agen Wisata India Gour Kanjilal juga mempertanyakan penurunan angka wisatawan seperti yang dirilis ASSOCHAM. Namun, Kanjilal mengakui, sejumlah wisawatan memang menyampaikan kekhawatiran terkait maraknya kasus pemerkosaan.

"Saat insiden seperti ini terjadi, turisme adalah korban pertamanya," kata Kanjilal.

Pada 2012, dengan slogan "Incredible India", Pemerintah India berhasil mendongkrak jumlah wisatawan asing hingga 6,6 juta orang, yang merupakan angka tertinggi dalam satu dekade terakhir. Namun, angka itu masih jauh di bawah China dan Malaysia.

Keprihatinan atas maraknya kasus perkosaan dan berbagai kabar kriminalitas menjadi sebuah pukulan telak bagi upaya Pemerintah India mengembangkan industri pariwisatanya.

Sejumlah negara bahkan sudah memberikan "travel warning" kepada warganya yang ingin bepergian ke India. Demikian ASSOCHAM.

Organisasi ini menemukan bahwa sebanyak 72 persen agen perjalanan di India menerima pembatalan dalam tiga bulan terakhir, yang biasanya adalah musim wisata tersibuk. Mereka yang membatalkan perjalanan ke India terutama wisatawan perempuan asal Kanada, Amerika Serikat, dan Australia.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.