Tantangan Pemimpin Baru China

Kompas.com - 23/03/2013, 01:48 WIB
Editor

Syamsul Hadi

Tanggal 17 Maret, Kongres Rakyat Nasional China secara resmi menetapkan Xi Jinping sebagai Presiden China.

Ia didampingi Li Keqiang sebagai perdana menteri (PM). Xi menggantikan pendahulunya, Hu Jintao, sementara Li menggantikan Wen Jiabao, yang menjadi presiden dan PM sejak 2002. Dalam pidato pertamanya sebagai kepala negara, Xi menyerukan agar ada kesadaran untuk terus merealisasikan era renaisans bangsa China dan ”impian China” (Kompas, 18/3). Tak cukup jelas apa yang dimaksud dengan ”renaisans dan impian China”. Xi menyebut pentingnya mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkesinambungan, meningkatkan kekuatan militer, dan menghindari perubahan politik yang dapat mengurangi kekuatan partai.

Jelas Xi menyampaikan pesan bahwa kesinambungan kekuasaan Partai Komunis China (PKC) dan jalan pembangunan yang ditempuh para pendahulunya akan tetap dijaga. Apa saja tantangan yang dihadapi Xi dalam memimpin China lima tahun ke depan?

Warisan era Hu

Setelah satu dekade kepemimpinan Hu Jintao, China telah menghadirkan diri sebagai kekuatan besar dunia yang disegani. Dalam kepemimpinan Hu, China banyak mengukir prestasi ekonomi besar, termasuk pertumbuhan ekonomi tinggi di tengah krisis ekonomi yang melanda AS dan Eropa. Di bawah Hu, China menjadi pemilik cadangan devisa terbesar di dunia (melampaui Jepang sejak 2006), menjadi negara pengekspor terbesar di dunia (melampaui Jerman sejak 2009), dan menjadi negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia (melampaui Jepang sejak 2010).

Tahun 2012, pertumbuhan ekonomi China 7,8 persen. Meski turun dibandingkan tahun 2011 (9,1 persen), angka ini jauh di atas pertumbuhan AS dan Jepang yang sama-sama 2 persen atau zona euro yang mengalami kontraksi 0,4 persen. Nilai PDB China 2012 mencapai 51,93 triliun yuan (8,28 triliun dollar AS, sekitar 12 kali lipat PDB Indonesia). Tahun 2012, cadangan devisa China 3,31 triliun dollar AS, sekitar 22 kali cadangan devisa kita.

Dengan demikian, dari sudut ekonomi makro, performa ekonomi China memang luar biasa. China benar-benar menjadi global factory yang produknya membanjiri seluruh penjuru dunia. Namun, upah buruh di China cenderung stagnan, bahkan mengalami penurunan. Meski dipuji Bank Dunia sebagai negara yang tak tertandingi dari sisi keberhasilan mengentaskan kemiskinan, China tetaplah negara miskin dinilai dari pendapatan per kapita yang urutan ke-127 di dunia, dengan 150 juta orang hidup di bawah pendapatan 2 dollar AS per hari. Dari sisi lingkungan hidup, polusi makin sulit teratasi dan China juga menjadi negara penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca di dunia.

Kesenjangan sosial ekonomi juga dibarengi peningkatan instabilitas sosial. Data statistik resmi Pemerintah China menunjukkan, protes massa berjumlah rata-rata 8.000 kali dalam setahun ketika Hu mulai berkuasa. Delapan tahun kemudian (2010), jumlahnya meningkat rata-rata 90.000 kali per tahun. Tindakan represi yang dilakukan pemerintah terhadap kerusuhan di Xin Jiang, Tibet, dan sekte agama Falun Gong cermin bahwa otoritarianisme politik tetap menjadi alat yang diandalkan pemerintah untuk mencegah ”anarki” di bidang politik.

Gaya kepemimpinan

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.