Kompas.com - 17/03/2013, 10:01 WIB
|
EditorAgus Mulyadi

"Dia mengatakan Argentina sedang bergolak. Dia ingin tetap di sana, karena tidak tega meninggalkan negaranya. Bagi saya, ini adalah sebuah tindakan berarti. Dia ingin bersama umatnya," kata Kardinal dari Lyon ini.

Pada hari Sabtu (16/3/2013), dia berbicara dengan pada wartawan dari penjuru dunia. Dia menemui para wartawan dengan sambutan hangat. Ini kontras dengan citra Vatikan bernuansa "power" (kekuasaan). Dia senyum menyambut 3.000 wartawan dan hadirin lainnya di Vatikan. Dia menegaskan, agar gereja diperuntukkan bagi kaum pada.

Dia menjelaskan alasan mengapa memilih nama sebagai Paus Fransiskus. Ini karena dia terinspirasi oleh Fransiskus Asisi (1181-1226), seorang rohaniwan Italia abad pertengahan yang hidup miskin dan pendamba perdamaian. "Saya menginginkan gereja yang miskin menjadi milik orang miskin," katanya, dengan kalimat sarat makna sebagaimana diberitakan kantor berita Agence France Presse.

Gereja yang miskin, dalam hal ini kemungkinan merupakan penekannya tentang prioritas pendalam kehidupan spiritual. Namun dia tidak menjelaskan tuduhan terkait "Dirty War" di Argentina selama rezim kediktatoran Argentina (1976-1983).

Jorge Mario Bergoglio, kini Paus Fransiskus, pernah dituduh terlibat atau setidaknya berdiam diri, saat dua pastor Jesuit ditahan rezim. Namun dalam penjelasan sebelumnya disebutkan bahwa Bergoglio mendekati rezim agar dua Jesuit itu dibebaskan, dan lima bulan kemudian mereka memang dibebaskan. Dua Jesuit ini terlibat kegiatan sebagai aktivis sosial saat itu.

Paus Fransiskus menjelaskan suasana emosional pada momen pemilihannya pada hari Rabu (13/3/2013) lalu. Ini sesuatu yang juga unik dari seorang Paus baru. Dia tidak beku dengan nuansa kerahasiaan, yang biasanya hanya tersimpan di dalam Vatikan sendiri. Dia menjelaskan ketika para kardinal memilihnya.

Saat itu dia duduk di dekat Kardinal Brazil Claudio Hummes (78). Kardinal Hummes menyemangatinya saat jelas bahwa Bergoglio terpilih sebagai Paus ke-266. Fransiskus mengatakan dia sempat "deg-degan", ketika suara sudah terpenuhi untuk pemilihannya sebagai Paus baru.

"Dia memeluk saya dan mencium saya, seraya mengatakan agar saya jangan melupakan kaum papa. Dan kalimat itu tertanam di sini," kata Paus Fransiskus menunjuk kepalanya.

"Saya langsung terpikir akan Fransiskus Asisi, seorang yang hidup dina, pencinta perdamaian, dan mencintai semua ciptaan (lingkungan hidup). Sekarang hubungan kita dengan lingkungan sedang tidak berjalan baik," katanya.

Dia juga mengingat Fransiskus Asisi akan perang, yang pernah dia tinggalkan dan memilih perdamaian.

Para kardinal sempat bertanya, apakah nama Fransiskus yang dia pakai merujuk pada Santo Fransiskus de Sales (1567-1622). Nama ini pernah menjabat sebagai uskup di Geneva, Swiss. Di masa hidupnya dia gencar mendorong kembalinya pemeluk Protestan ke Katolik, yang ditinggalkan karena krisis di kepausan. De Sales adalah orang yang ingin memperbaiki gereja dari dalam.

Dia juga ditanyai, apakah namanya merujuk pada salah satu pendiri Ordo Jesuit, asal Ordonya, Fransiskus Xaverius (1506-1552). Ada canda dari sejumlah kardinal yang menyarankan penggunaan nama sebagai Hadrian VI, meniru seorang Paus tokoh reformis gereja, sebagai kebutuhan akan perlunya pembersihan sedikit keadaan acak-acakan di birokrasi Vatikan.

Halaman:
Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X