Messi, Maradona, dan Paus

Kompas.com - 17/03/2013, 01:45 WIB
Editor

Sindhunata

Sejenak rakyat Argentina di Buenos Aires seperti tersihir dalam diam. Namun, begitu di televisi diumumkan dan diperlihatkan Paus yang baru, mereka pun meledak dalam jerit dan sorak tak terkatakan. ”Argentina, Argentina!” demikian mereka berteriak di mana- mana. Jalanan pikuk dengan klakson mobil. Bendera Argentina dikibar-kibarkan. Luapan sukacita ini persis seperti ledakan kegembiraan saat pertandingan final kesebelasan Argentina menekuk Jerman 3-2 dan menjadi juara Piala Dunia 1986 di Mexico City.

Messi, Maradona, Paus! Begitulah mereka berteriak-teriak ketika mereka tahu bahwa Paus yang baru adalah Kardinal Jorge Mario Bergoglio, Uskup Agung Buenos Aires. Bangsa mana yang tidak bangga bila mereka mempunyai legenda seperti Messi dan Maradona? Dua legenda itu sudah seperti rahmat berlimpah. Apalagi sekarang mereka mempunyai Paus Fransiskus. Lengkap sudah kegembiraan dan kebanggaan rakyat Argentina.

Tak hanya rakyat Argentina, tetapi seluruh dunia pun bergembira karena terpilih Paus yang menyebut dirinya ”datang dari ujung dunia ini”. ”Ia seperti kuda hitam yang jadi juara. ”Ia bukan favorit. Saya sama sekali tak dapat berkomentar, saya tegang,” kata seorang bernama Emanuel Sargari dari Santa Fe, Argentina, di tengah lautan manusia yang memadati halaman Gereja Santo Petrus, Roma. Saking tegangnya, ia sampai lupa menggoyang-goyangkan bendera Argentina.

Beberapa orang Italia kelihatan kecewa karena yang terpilih bukanlah Kardinal Angelo Scola dari Milan, jago yang sempat diunggulkan. ”Ya, tak apalah, sekurang-kurangnya ia mempunyai darah Italia,” kata seorang wanita Italia menghibur diri. Nada bicaranya seperti seorang fans bola yang jagonya kalah.

Dunia mengharap Paus Fransiskus akan membawa angin perubahan yang segar. Orang kiranya ingat akan catatan yang ditinggalkan Kardinal Italia terkenal, Carlo Martini. Sebelum kematiannya tahun lalu, Martini menyebut bahwa Gereja Katolik ini ketinggalan 200 tahun lamanya. Ritual Gereja megah dan meriah, tetapi berhadapan dengan zamannya, Gereja kehilangan nyali dan menjadi penakut.

Menurut Martini, Gereja lelah dan terseok-seok karena keberatan beban, seperti beban birokrasi yang melebihi proporsi dan beban liturgi yang melulu ritualistik belaka. Gereja harus bisa menemukan bara apinya lagi di tengah tumpukan abu yang menenggelamkannya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kardinal Bergoglio memilih nama Fransiskus untuk jabatan kepausannya. Fransiskus (1182-1226) adalah seorang kudus pembaru Gereja. Ia meninggalkan segala kekayaan dan kenikmatan dunia, lalu hidup sebagai orang miskin dan memberikan diri seluruhnya kepada kaum miskin. Semasa masih menjadi Uskup Agung di Buenos Aires, seperti Santo Fransiskus yang ingin diteladaninya, Kardinal Bergoglio adalah pembela hak asasi dan pengkritik yang bersuara keras terhadap keserakahan yang merusak ekologi. Hidupnya juga dekat dengan orang miskin. Ia tidak tinggal di istana uskup, tetapi di apartemen. Ke tempat kerja ia menggunakan kendaraan umum. Ia sungguh kardinal yang sederhana.

Belum lama ini, ia mengkritik warga Argentina yang seperti sudah kerasukan setan dari imperium uang, yang kiprahnya terlihat, misalnya, dalam perdagangan manusia, obat bius, dan korupsi. Itu semua akan membuahkan kekerasan, yang merusak keluarga. Dan, korbannya lebih-lebih adalah anak-anak dari keluarga miskin.

Paus Fransiskus kiranya akan terus memperjuangkan keprihatinannya tadi. Karena itu, semoga ia tak defensif mempertahankan hierarki kekuasaan yang selama ini mengurung pertahanan Gereja terhadap tantangan dari luar. Siapa tahu ia bisa menjadi ”Maradona Gereja”, yang berani mendobrak struktur Gereja yang terlalu defensif.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.