Kompas.com - 11/03/2013, 14:19 WIB
EditorErvan Hardoko

TOKYO, KOMPAS.com — Warga Jepang, Senin (11/3/2013), memperingati dua tahun bencana gempa dan tsunami yang merupakan bencana alam terdahsyat sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Akibat gempa dan tsunami dua tahun lalu itu, 19.000 orang dinyatakan tewas, sementara 315.000 orang lainnya masih tinggal di pengungsian, termasuk mereka yang mengungsi dari bahaya radiasi akibat hancurnya PLTN Fukushima.

Gempa berkekuatan 9 skala Richter itu menghantam wilayah timur laut Jepang pada pukul 14.26 pada 11 Maret 2011, memicu gelombang tsunami setinggi 30 meter yang menghantam pesisir Jepang.

Sementara itu, PLTN Fukushima Daiichi di sebelah utara Tokyo, diterjang dinding air setinggi 13 meter. Terjangan tsunami ini menghancurkan PLTN Fukushima, menghancurkan generator cadangan, dan melumpuhkan sistem pendingin PLTN. Akibatnya, tiga reaktor nuklir meleleh dalam sebuah bencana nuklir terburuk sejak Chernobyl pada 1986.

Tiga bencana besar itu mengejutkan Jepang. Selain itu, bencana tersebut membuat warga Jepang mempertanyakan tenaga nuklir yang sudah memasok lebih dari 30 persen listrik Jepang. Sebelum bencana, warga Jepang yakin energi nuklir adalah energi yang bersih, murah, dan aman.

Dua tahun berselang, pembangunan di kawasan timur laut Jepang berjalan lambat. Kawasan itu kini menderita karena penuaan warga dan stagnasi perindustrian, termasuk industri peternakan, lebih cepat terjadi. Sementara itu, lebih dari 300.000 orang masih tinggal di penampungan.

"Kami berada di persimpangan. Kami tidak tahu bagaimana kami melanjutkan hidup, dan apa yang kami harus lakukan," kata Sakari Minato (49), seorang penjual mobil di kota Yamada, Prefektur Iwate.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Minato kini tinggal di sebuah rumah yang masih terlihat kerusakan di sana sini akibat terjangan tsunami.

"Di Tokyo, ekonomi mungkin membaik setelah bursa saham membaik, tetapi butuh waktu lama untuk mengubah semua ini," tambah dia.

Sementara itu, PLTN Fukushima Daiichi kini berada dalam kondisi "stabil". Namun, untuk benar-benar mematikan reaktor yang rusak diperlukan waktu puluhan tahun, dan biaya miliaran dollar AS. Akibatnya, kini 160.000 orang yang tinggal di sekitar PLTN Fukushima tak akan pernah bisa kembali ke tempat tinggalnya.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.