Kompas.com - 08/03/2013, 09:47 WIB
EditorEgidius Patnistik

JERUSALEM, KOMPAS.com  Anak-anak Palestina yang ditahan di tahanan militer Israel mengalami pelecehan "secara sistematis, luas, dan terlembaga". Demikian kata sebuah laporan Unicef.

Pengalaman umum dari banyak anak, kata laporan itu, adalah dibangunkan di tengah malam oleh tentara bersenjata dan dibawa ke pusat interogasi dalam keadaan terikat dan mata tertutup. Laporan tersebut mengatakan, anak-anak itu mengalami kondisi kurang tidur dan ketakutan ekstrem dan hanya sedikit yang diberi tahu tentang hak-haknya untuk mendapatkan penasihat hukum.

"Interogasi itu merupakan campuran intimidasi, ancaman, dan kekerasan fisik dengan tujuan memaksa anak-anak itu untuk mengaku," kata laporan itu seperti dikutip Sydney Morning Herald, Jumat (8/3/2013).

Laporan tersebut memperkirakan, sekitar 7.000 anak di bawah umur telah ditahan, diinterogasi, dituntut, dan dipenjarakan dalam sistem peradilan militer Israel selama 10 tahun terakhir. Secara rata-rata, itu berarti dua orang anak setiap hari.

Seorang anak, Sayyid Awad, ketika berumur 15 tahun, terbangun pada pukul 03.30 pagi hanya untuk menemukan dirinya dikelilingi tentara Israel bersenjata lengkap. Mereka mengikat pergelangan tangannya dan menutup matanya, lalu menyeretnya keluar ke kegelapan malam sementara keluarganya protes.

Sayyed dibawa ke penjara Ofer pada hari berikutnya. Dia ditahan dalam sebuah sel bersama dua orang dewasa. Sayyed didakwa karena melemparkan batu dalam sebuah demonstrasi di permakaman. Selama interogasi, ia diborgol di kursi dan disiksa secara fisik.

"Mereka memukul, menendang, menampar wajah saya, dan mereka memukul saya dengan senjata mereka," kata Sayyed yang sekarang berusia 17 tahun. Para interogatornya mencoba untuk membujuk dia menandatangani dokumen yang ditulis dalam bahasa Ibrani, bahasa yang dia tidak dipahami. Dia dijatuhi hukuman enam bulan penjara dan denda 2.000 shekel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Unicef mengatakan, pihaknya tidak menemukan bukti adanya tahanan yang didampingi seorang pengacara atau anggota keluarga selama diinterogasi dan anak-anak itu jarang diberi tahu tentang hak-hak mereka.

Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan, Israel telah ikut serta dalam kerja sama dengan Unicef dengan tujuan memperbaiki hal-hal yang menjadi persoalan dalam laporan itu. Seorang perwira militer Israel, yang meminta tidak disebutkan namanya, mengatakan, salah satu rekomendasi kunci Unicef adalah bahwa interogasi harus direkam. Rekomendasi tersebut kini sedang dipertimbangkan secara serius oleh pihak Israel.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.