Chavez, Engkau seperti Bapak

Kompas.com - 08/03/2013, 02:45 WIB
Editor

Persoalan Venezuela adalah sejarah dominasi elite kulit putih keturunan Spanyol. Ini berlangsung ratusan tahun hingga dekade 1990-an. Kepemilikan kue ekonomi dan dominasi politik ada di tangan elite ini, yang dekat dengan nenek moyang Spanyol dan kompak dengan Washington.

Era oligarki, kekuasaan elite pengusaha, penguasa, dan militer keturunan Spanyol lama berkuasa. Elite tidak memedulikan kaum papa dan kelompok mayoritas dari 30 juta warga Venezuela.

Hugo Chavez (58) berasal dari kelompok mayoritas terpinggirkan. Dia tampil sebagai pelopor dan pembela kaum tertinggal. Ini yang membuat elite Venezuela berang karena hak-hak bisnis mereka dilucuti. Kolaborasi bisnis mereka dengan Eropa dan Amerika Serikat, yang tidak menetes ke warga kecil, ditebas.

Karena itu, ada yang tidak bersedih dengan kepergian Chavez, yang dua tahun terakhir menderita kanker dan meninggal Selasa (5/3) lalu. ”Kebencian dan perpecahan menyebar. Mereka ingin menjadikan dia martir, tetapi saya tertawa,” kata Jose Mendoza (28), ahli komputer yang tinggal di wilayah oposisi di Caracas timur.

Harian Inggris, The Financial Times edisi Rabu, juga menuduh Chavez tokoh yang melemahkan kelembagaan di Venezuela.

Namun, tidak demikian opini warga kebanyakan. Mayoritas menangis dan berduka. Di alun-alun di seluruh negeri, warga berkumpul menunjukkan dukacita. ”Sebelum dia, pemerintah tidak pernah peduli pada kaum papa. Kini anak-anak mempunyai segalanya,” kata Maria Alexandra, ibu beranak enam orang.

Ketika jenazah Chavez diberangkatkan dari rumah sakit menuju Akademi Militer, yang disebut Chavez sebagai rumah keduanya, warga berbondong- bondong mengantar. Jarak 8 kilometer ditempuh iringan pengantar jenazah dalam tujuh jam.

Bukan tangisan ”Korut”

Tangisan merebak. Perempuan, laki-laki, kakek, dan nenek menangis saat jenazah berlalu. Tangisan mereka murni tangisan batin dan ungkapan hati terdalam. Ini bukan tangisan ala warga Korea Utara, yang terlihat dipaksakan saat para pemimpin mereka wafat.

”Aku menyayangimu, Chavez! Engkau seperti seorang bapak,” kata Carlos Betancourt (24).

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.