Kompas.com - 06/03/2013, 11:04 WIB
EditorEgidius Patnistik

Muncul reaksi beragam terhadap meninggalnya Presiden Venezuela Hugo Chavez dari para pemimpin dunia. Sebagian menyatakan berita duka ini sebagai musibah, sementara lainnya menganggapnya sebagai pintu masuk agar negara itu meninggalkan bayang-bayang pemerintahan sosialis Chavez.

Sosok Chavez dipandang oleh sebagian pengagumnya sebagai pemimpin heroik dan tegas memilih berseteru dengan AS serta menasionalisasikan perusahaan minyak, sementara sebagian lain menganggapnya sebagai diktator.

Dari Bolivia, negara yang juga berhaluan kiri, Presiden Evo Morales, yang menjadi salah satu sekutu terdekat Chavez, menyatakan bahwa ''Chavez justru lebih hidup dari sebelumnya''.

Morales yang berurai air mata juga mengatakan, ''Chavez akan terus menjadi inspirasi bagi siapa pun yang berjuang menuju kebebasan.''

Di Nikaragua dan Argentina, keduanya sekutu Chavez di Benua Amerika, para pemimpin kedua negara juga menyatakan dukacita dan rasa kehilangan mereka.

Sementara di Kuba, negara yang selama ini menjadi tempat merawat sakit kanker Chavez dan juga menerima bantuan bernilai jutaan dollar dari penghasilan minyak Venezuela, kepergian Chavez menimbulkan kekhawatiran akan terjadi dampak negatif di negeri pulau itu.

'Pukulan yang sangat berat... Sekarang saya bertanya-tanya, bagaimana nasib kami selanjutnya?'' kata Maite Sierra, seorang warga Havana berumur 72 tahun, seperti ditulis kantor berita Associated Press.

Lambaian bendera dan sorak-sorai

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dari Amerika Serikat, pernyataan dukacita Presiden Barack Obama dari gedung ditulis dalam dalam dua kalimat yang tak secara jelas menyebut perseteruan antar-dua pihak selama bertahun-tahun Chavez memerintah Venezuela.

"Amerika Serikat memperkuat dukungannya kepada rakyat Vezeluela," demikian bunyi pernyataan itu. Presiden Obama juga menyebut kematian Chavez menjadi saat yang sulit bagi Venezuela, tetapi juga menjadi momentum untuk sebuah "bab baru dalam sejarahnya untuk menegakkan prinsip demokrasi, hak asasi, dan aturan hukum".

Di jalanan di komunitas Venezuela di negara bagian Florida, AS, berita kepergian Chavez disambut dengan lambaian bendera dan sorak-sorai.

"Dia pergi!" kata sekumpulan orang yang mengaku gembira dengan meninggalnya pemimpin Venezuela itu setelah hampir satu setengah dekade Chavez menggenggam kekuasaan yang dipandang nyaris mutlak di negerinya.

"Kami bukannya gembira karena dia meninggal," kata Ana San Jorge, 37, warga setempat. Di tengah kerumunan warga yang berkumpul di pinggir kota Miami di Doral, Jorge menyebut, "Kami gembira merayakan terbukanya pintu baru harapan untuk perubahan."

Bintang film Hollywood yang juga dikenal karena aksi kemanusiaannya, Sean Penn, menyatakan berdoa untuk Chavez setelah mendengar berita kematiannya. Menurut Penn banyak kebaikan pria yang sempat mengidap kanker itu yang tak tersiar di AS.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.