Kompas.com - 06/03/2013, 07:24 WIB
EditorA. Wisnubrata

Dalam salah satu penghinaan yang paling berkesan, Chavez menyebut Presiden AS George Bush sebagai iblis di hadapan Majelis Umum PBB pada tahun 2006. "Iblis datang ke sini kemarin. Bau belerangnya masih tercium hari ini," katanya.

Pada tahun 2007, Chavez kalah untuk kali pertama, dalam sebuah referendum mencari persetujuan reformasi konstitusional yang menyoroti kebijakan sosialisnya. Meskipun demikian, berkat Majelis Nasional yang berpihak kepadanya, Chavez mendapatkan beberapa tujuannya, termasuk bisa ikut pemilihan ulang secara tidak terbatas.

Pada tahun yang sama, Chavez membuat partai politik baru, Partai Sosialis Bersatu Venezuela, yang merupakan gabungan partainya dengan partai-partai kiri lainnya.

Lawan politiknya menuduh Chavez sebagai otoriter, populis, dan bahkan diktator karena telah mendorong reformasi konstitusi memungkinkan pemilihan ulang-tak terbatas.

Bersamaan dengan itu, Chavez makin sering menggunakan undang-undang untuk menekan lembaga penyiaran dan media yang anti kepadanya.

Di dunia internasional, Chavez juga dikenal lewat pernyataannya yang berani meski kadang-kadang aneh, bahkan lucu. Tahun lalu, misalnya, setelah beberapa pemimpin Amerika Latin didiagnosis menderita kanker, termasuk dirinya, ia menuduh Amerika Serikat berada di balik penyakitnya itu.

"Apakah aneh jika (Amerika Serikat) mengembangkan teknologi untuk menginduksi kanker, dan tak seorang pun mengetahuinya?" ujarnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Saat krisis kekurangan air melanda Venezuela tahun 2009, ia mendorong rakyat Venezuela agar mandi selama tiga menit saja.

Di samping kebenciannya terhadap AS, Chavez adalah orang yang meyakini bahwa "Konsensus Washington," model reformasi ekonomi dari Amerika Serikat untuk negara-negara berkembang, sudah berakhir.

Bersama dengan Kuba, Ekuador, Bolivia, Nikaragua, dan beberapa negara Karibia, Chavez membentuk Aliansi Bolivarian untuk Rakyat Amerika Kita (ALBA). Kelompok itu dimaksudkan untuk menandingi pengaruh AS di wilayah tersebut.

Sebagai presiden, Chavez memiliki ambisi yang jelas menjadi pemimpin regional dan internasional. Kini setelah ia meninggal, orang bertanya-tanya akan seperti apa Amerika Latin kelak. Tanpa Chavez dan segala sepak terjangnya, dunia pasti menjadi tempat yang berbeda.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.