Kompas.com - 28/02/2013, 07:59 WIB
EditorEgidius Patnistik

Pengunduran diri Paus Benediktus XVI, yang segera dijuluki Paus Emeritus, memunculkan pertanyaan. Apa yang telah dia tanamkan dan tinggalkan setelah bertakhta sejak 2005? Salah satu yang menjadi warna utama Benediktus XVI adalah kehebatannya dalam ilmu teologi dan sikapnya yang sangat konservatif.

Hal lain yang menjadi warna utama Paus ini adalah keberadaan Gereja sebagai pagar moral walau ada ekses-ekses negatif oleh sebagian pengikutnya. Benediktus sangat keras mempertahankan lembaga perkawinan oleh pria dan wanita serta menolak tuntutan ”perkawinan eksentrik”.

Dia menekankan Gereja agar tetap di akar utama sebagai acuan moral. Namun, Benediktus bukan tidak suka dengan hal-hal baru dan temuan-temuan baru. Dalam pidatonya pada Rabu di Lapangan Basilika Santo Petrus, dia menekankan kecintaan pada hal-hal yang membumi sekaligus pada pemikiran-pemikiran baru. Dia menekankan bahwa dia juga mendengar dan memahami masalah yang terjadi.

Dalam kekuasaan sejak 2005, Benediktus dikenal hati-hati dan konservatif. Pernah sempat ada kehebohan yang memercikkan kontroversi antar-umat beragama, tetapi Benediktus menegaskan bahwa dia sebenarnya hanya bertujuan untuk menabuh pemikiran.

Teologi pembebasan

Dari sekian banyak pandangan para pakar tentang Paus Benediktus, ada satu warisan yang menjadi warna khas pribadinya. Hal ini terkait dengan kawasan Amerika Latin, penghuni 46 persen umat Katolik sedunia.

Di kawasan ini, teologi konservatif berhasil bertahan dalam arus deras teologi pembebasan yang sempat marak. Teologi pembebasan ini awalnya berkembang sebagai akibat dari Konsili Vatikan II tahun 1965. Konsili ini melahirkan relaksasi peraturan Gereja, salah satunya soal aturan liturgi yang selama ratusan tahun memaksakan penggunaan bahasa Latin.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Seusai konsili ini, beberapa pastor dan teolog di Amerika Latin menginterpretasikan konsili itu serta menerjemahkannya ke dalam teologi pembebasan. Salah satu misi teologi pembebasan ini adalah penekanan keadilan dan tindakan langsung terkait pembelaan terhadap kaum papa.

Leonardo Boff dan Helder Camara dari Brasil, Oscar Romero dari El Salvador, dan Ernesto Cardenal dari Nikaragua adalah beberapa nama yang terkenal sebagai pendukung teologi pembebasan. Tokoh lain adalah Camilo Torres Restrepo, yang melepas jubah sebagai pastor demi berjuang bersama gerilyawan Kolombia.

Selama 24 tahun (sejak 1978) hingga termasuk selama delapan tahun menjabat Paus, Benediktus berhasil menegakkan kembali keunggulan asas konservatisme atas teologi pembebasan. ”Paus adalah ahli teori di balik semua ini,” kata Luis Pasara, pakar soal Katolik dari Universidad de Salamanca, Spanyol.

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.