Kompas.com - 22/02/2013, 09:59 WIB
EditorEgidius Patnistik

ROMA, KOMPAS.com — Paus Benediktus XVI mengundurkan diri setelah sebuah investigasi internal memberitahu dia tentang sebuah jaringan pemerasan, korupsi, dan seks gay di Vatikan, demikian laporan media Italia, yang kemudian dikutip sejumlah media global, termasuk kantor berita Jerman, DPA, Kamis (21/2/2013).

Laporan itu menyebutkan, tiga kardinal diminta Benediktus untuk memverifikasi berbagai tuduhan tentang penyelewengan keuangan, kronisme, dan korupsi yang terungkap dalam apa yang disebut sebagai VatiLeaks.

Pada 17 Desember 2012, para kardinal itu menyerahkan kepada Sri Paus dua bundel berkas, hampir setebal 300 halaman, yang berisi "sebuah peta rincian kejahatan dan ikan busuk" di dalam Takhta Suci, lapor harian Italia, La Repubblica.

"Pada hari itulah, dengan berkas-berkas itu ada di mejanya, Benediktus XVI membuat keputusan yang sudah begitu lama ia renungkan," lapor harian yang berhaluan kiri-tengah itu. Harian tersebut menyatakan, artikelnya itu merupakan yang pertama dari sebuah serial.

Panorama, sebuah mingguan konservatif, tidak berspekulasi tentang motif di balik pengunduran diri Benediktus, tetapi laporannya tentang isi dokumen rahasia itu secara umum sama.

Juru bicara Vatikan, Pater Federico Lombardi, menolak untuk "meladeni fantasi dan opini". Ia memperingatkan para wartawan, "Jangan mengharapkan komentar atau sanggahan dari apa yang telah dikatakan tentang isu itu."

La Repubblica mengutip seorang pria yang digambarkan sebagai "sangat dekat" dengan para penulis laporan mengatakan, informasi itu mengandung "semua pelanggaran terkait perintah keenam dan tujuh" (dari 10 Perintah Tuhan), yang mengatakan, "Kamu jangan berzinah" dan "Kamu jangan mencuri".

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Para kardinal itu dikatakan telah menemukan sebuah jaringan gay bawah tanah, yang para anggotanya mengadakan pertemuan seksual di beberapa tempat di Roma dan kota Vatikan, membuat mereka rentan terhadap pemerasan.

Laporan rahasia itu juga menyelidiki sejumlah dugaan transaksi di Institute for Religious Works (IOR), bank Vatikan, yang pemimpinnya baru ditunjuk pekan lalu setelah mengalami kekosongan selama sembilan bulan, kata La Repubblica, tanpa memberikan rincian.

Harian itu mengatakan, Benediktus secara pribadi akan menyerahkan file rahasia itu kepada penggantinya, dengan harapan si pengganti akan cukup "kuat, muda, dan suci" untuk mengambil tindakan yang diperlukan.

Para penulis laporan rahasia itu tidak akan ikut serta dalam konklaf (sidang para kardinal untuk memilik paus) karena mereka telah berusia lebih dari 80 tahun, melewati batas usia yang ditentukan untuk bisa mengikuti pertemuan tersebut. Namun, Panorama mengatakan, mereka akan menginformasikan kepada para kardinal lain tentang apa yang mereka temukan.

Menurut mingguan tersebut, seperti dikutip DPA, temuan para kardinal itu "akan mewarnai suasana konklaf" karena harus memilih "paus yang kebal terhadap pemerasan sehingga ia dapat memulai operasi pembersihan yang (Benediktus) percayakan kepada penggantinya".

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.