PM Jebali Gagal Susun Kabinet Teknokrat

Kompas.com - 20/02/2013, 02:35 WIB
Editor

TUNIS, Selasa - Perdana Menteri Tunisia Hamadi Jebali, Senin (18/2), mengaku telah gagal membentuk kabinet teknokrat yang dia gagas untuk meredakan gejolak politik, terutama setelah pembunuhan tokoh oposisi Chokri Belaid awal bulan ini. Kegagalan disebabkan Ennahda, partai yang berkuasa, tidak mendukung usul Jebali.

Jebali tetap optimistis pintu kompromi dan negosiasi masih terbuka. ”Saya katakan dengan tegas, semua usul saya, yang mengusung perombakan kabinet dan mereka pun harus terdiri dari orang-orang yang tidak memiliki afiliasi politik, telah gagal,” katanya seusai pertemuan dengan para pemimpin partai.

Meski demikian, ”Bentuk pemerintahan yang lain masih dimungkinan,” kata Jebali. Dia tidak merinci apa maksudnya dengan istilah ”pemerintahan yang lain”. Sebelumnya Jebali bersumpah akan melepaskan jabatannya jika rencana dia membentuk kabinet teknokrat itu ditolak. Sikap tegas Jebali mengejutkan banyak pihak karena dia maju atas dukungan Ennahda.

”Saya akan menghadap presiden, besok (Selasa), untuk membicarakan langkah selanjutnya. Namun, saya mencatat kemajuan selama diskusi politik dalam hal mencari konsensus solusi lain,” kata Jebali tanpa menentukan apakah akan mundur sesuai janjinya atau tetap bertahan.

Susunan baru segera disampaikan ”dalam beberapa hari ini,” kata Jebali. Dia menambahkan, penundaan lebih lanjut dalam mencari solusi atas krisis politik yang terjadi karena pembunuhan Belaid, politisi sayap kiri, 6 Februari lalu.

Jebali pertama kali berinisiatif untuk merombak kabinet setelah terjadi gejolak politik yang tajam pascapembunuhan Belaid. Dalam unjuk rasa besar-besaran di Tunis, pekan kedua Februari, seorang polisi tewas dalam bentrokan antara aparat dan massa.

Pembunuhan Belaid itu terjadi setelah berbulan-bulan lamanya koalisi yang berkuasa justru gagal merombak kabinet. Persoalan ini terjadi karena Ennahda tetap ingin mendominasi tata pemerintahan. Hal ini dikritik Belaid hingga akhirnya dia tewas ditembak seorang anggota milisi binaan Ennahda.

Jebali berkeras bahwa, meskipun gagal, inisiatifnya berhasil ”mengajak semua pihak untuk terlibat dalam perundingan” dan dalam mencegah Tunisia jatuh dalam kekacauan. Rencana pembentukan kabinet baru ditentang keras kubu Islam garis keras, Partai Ennahda, yang diwakili sosok ketua partai, Rached Ghannouchi.

Ennahda mendominasi parlemen dengan meraih 89 dari 271 kursi. Selain itu, partai Islam ini juga menduduki pos-pos penting di kabinet, seperti menteri dalam negeri, menteri luar negeri, dan menteri kehakiman.

Menurut Ghannouchi, perwakilan dari sekitar 15 partai telah bersepakat dalam pertemuan Senin itu menyangkut kebutuhan atas pemerintahan baru yang sebenarnya memiliki ”kompetensi-kompetensi politik untuk menggelar pemilu secepat-cepatnya”. (AFP/REUTERS/AP/CAL)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.