Navy SEAL Pembunuh Osama Kini Menganggur dan Cemas

Kompas.com - 12/02/2013, 06:35 WIB
EditorEgidius Patnistik

"Kami tidak akan pernah keluar dari sini sekarang," katanya. "Saya pikir kami harus mencuri mobil dan pergi ke Islamabad karena pilihan lain adalah bertahan dan menunggu militer Pakistan muncul .... Saat itulah saya khawatir."

Setelah serangan itu, kembali ke sebuah basis di Jalalabad, Afganistan, "si penembak" membawa seorang perwira perempuan CIA, yang kini jadi terkenal oleh film Hollywood Zero Dark Thirty, untuk melihat mayat Osama. "Kami melihat dan saya bertanya, 'Apakah itu orang (yang) Anda (cari)?" Dia (perempuan itu) menangis.

"Saat itulah saya keluarkan magasin saya dari senjata saya dan memberikannya kepada perempuan itu sebagai suvenir. Ada 27 peluru yang tersisa di dalamnya. 'Saya harap Anda punya ruang dalam ransel Anda untuk ini.' Itu kali terakhir saya melihat perempuan itu." Agen CIA itu, yang digambarkan dalam film yang masuk nominasi Oscar tersebut sebagai orang yang tak kenal lelah dan berdedikasi, yakin bahwa Osama berada di kompleks Abbottabad tersebut.

Walau anggota Navy SEAL itu menyebut beberapa rincian dalam film tidak realistis, ia mengatakan bahwa rangkaian karakter agen CIA itu benar. "Mereka membuatnya menjadi seorang perempuan tangguh," katanya.

Ia mengungkapkan tidak ada anggota SEAL yang tewas atau terluka dalam serangan itu. Namun pada musim panas 2012, setelah pensiun dari militer, dia jadi takut terkait kemungkian serangan balas dendam terhadap keluarganya dan bagaimana ia akan hidup sebagai seorang warga sipil. Dia telah mengajarkan istri dan anak-anaknnya tentang apa yang harus dilakukan jika penyerang memasuki rumah mereka. Istrinya siap untuk menggunakan senapan serbu terhadap para penyusup.

Karena ia meninggalkan Angkatan Laut setelah 16 tahun bertugas, ia tidak memenuhi syarat untuk mendapat pensiun. Dana pensiun hanya diberikan kepada mereka yang bertugas di Angkatan Laut setidaknya 20 tahun. "Dia telah memberikan begitu banyak hal untuk negaranya, dan sekarang dia ditinggalkan dalam debu," kata istrinya.

"Saya merasa tidak ada dukungan, tidak hanya untuk keluarga saya, tetapi untuk keluarga lain di masyarakat. Saya jujur, tidak punya orang ke mana saya bisa pergi, atau berbicara tentang hal ini. Saya juga tidak merasa suami saya telah mendapat banyak untuk apa yang dia capai dalam kariernya," tambah istrinya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Seorang teman sesama anggota pasukan komando, seorang Navy SEAL, mengatakan ia juga khawatir dengan penghasilannya setelah pensiun. Ironisnya, kata dia, keluarganya akan lebih baik secara finansial jika ia tewas dalam pertempuran. "Saya setuju bahwa kehidupan sipil itu menakutkan, dan saya punya keluarga untuk diurus. Sebagian besar dari kami tak punya apa-apa untuk diberikan kepada masyarakat. Kami bisa melacak dan membunuh musuh dengan sangat baik, tetapi hanya itu," katanya.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.