Kompas.com - 12/02/2013, 06:35 WIB
EditorEgidius Patnistik

WASHINGTON, KOMPAS.com Anggota Navy SEAL yang membunuh Osama bin Laden akhirnya buka suara, Senin (11/2). Dalam sebuah wawacara dengan majalah Esquire, ia menceritakan bahwa pada malam itu ia menembak pemimpin Al Qaeda tersebut tiga kali. Anggota pasukan komando itu ia juga mengungkapkan kecemasannya terkait masalah keuangan yang dialami sekarang sebagai warga sipil yang menganggur.

Anggota Navy SEAL itu dirahasiakan identitasnya dalam profil panjang majalah Esquire, tetapi ia mengungkapkan perannya dalam serangan berani pada Mei 2011 untuk kali pertama, serta kekhawatiran yang dia rasakan terkait keamanan keluarganya.

"Dia tampak bingung, dan lebih tinggi dari yang saya bayangkan," kata anggota SEAL itu tentang Osama.

Saat pasukan komando Navy SEAL tiba dalam kegelapan malam di lantai tiga tempat persembunyian Osama, tangan pemimpin Al Qaeda itu memegang bahu istri termudanya, "mendorong istrinya ke depan" dan ada senjata AK-47 di dekatnya. "Saya tidak tahu apakah dia (istrinya) punya rompi anti-peluru dan dia didorong untuk menjadi martir bagi mereka berdua. Dia (Osama) punya senjata dalam jangkauan. Dia merupakan sebuah ancaman. Saya harus melakukan tembakan di kepala sehingga dia tidak punya kesempatan untuk meledakkan dirinya," kata anggota pasukan komando itu.

"Dalam sekejap, saya menembaknya, dua kali di dahi. Bap! Bap! Pada tembakan kedua, ia roboh. Dia ambruk ke lantai di depan tempat tidurnya dan saya menembaknya lagi. Bap! di tempat yang sama," katanya.

"Dia tewas. Tak bergerak. Lidahnya menjulur keluar."

Artikel Esquire itu, yang menjuluki anggota pasukan komando yang tidak disebutkan namanya sebagai "the Shooter (si penembak)," berfokus pada penderitaan Navy SEAL sebagai pahlawan anonim tanpa pensiun, asuransi kesehatan, atau keamanan tambahan untuk keluarganya. Artikel itu berjudul, "The Man Who Killed Osama bin Laden... is Screwed".

Profil panjang di majalah itu muncul setelah seorang anggota Navy SEAL yang lain yang ikut serta dalam serangan itu, Matt Bissonnette, menerbitkan sebuah buku berjudul No  Easy Day, tahun lalu. Buku itu memicu kemarahan para pejabat Pentagon. Mereka menuduh Bissonnette melanggar janji untuk tidak mengungkapkan informasi rahasia.

Artikel Esquire itu menegaskan sejumlah laporan sebelumnya, termasuk satu laporan dalam No Easy Day, yang menggambarkan saat Osama terluka parah dan ambruk di lantai, dan anggota SEAL lainnya menembaknya berulang di dada dan kaki.

Menurut Esquire, serangan yang mematikan Osama hanya 15 detik. Namun saat yang menakutkan datang, ketika "si penembak" mengetahui bahwa salah satu dari helikopter Black Hawk yang digunakan dalam serangan itu jatuh di kompleks tersebut.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X