Kompas.com - 11/02/2013, 19:46 WIB
EditorHeru Margianto

JAKARTA, KOMPAS.com - Kardinal Joseph Ratzinger terpilih sebagai paus dalam usia yang sudah tua, 78 tahun.  Ia adalah paus ke 265 dalam sejarah Gereja Katolik Roma, menggantikan Paus Yohanes Paulus II yang sangat popoluer.

Sidang pemilihan paus atau yang biasa disebut konklaf selalu menarik perhatian umat Katolik di seluruh dunia. Jabatan paus adalah jabatan seumur hidup. Lazimnya, konklaf digelar setelah seorang paus wafat sehingga perlu ditunjuk penggantinya. Konklaf diikuti oleh seluruh kardinal di seluruh dunia. Kardinal acap disebut sebagai "pangeran gereja". Layaknya pangeran, biasanya merekalah ahli waris tahta kepausan.

Kardinal adalah pejabat senior dalam struktur Gereja Katolik Roma. Ia berada di bawah paus dan ditunjuk oleh paus. Biasanya, seorang kardinal adalah juga seorang uskup yang memimpin sebuah keuskupan. Tugas terpenting para kardinal adalah memilih paus. Selain memilih paus, para kardinal ini selalu juga menjadi kandidat paus baru. Jadi, dalam konklaf, para kardinal memilih siapa diantara mereka yang dipandang layak menjadi paus.

Pemilihan paus dilakukan dengan cara yang unik. Konklaf digelar di Kapel Sistina di Basilika Santo Petrus, Vatikan, dan berlangsung secara rahasia. Yang berkumpul di dalam kapel hanya para kardinal. Mereka tidak boleh membawa alat komunikasi apapun. Kapel dikunci selama konklaf berlangsung.

Seorang paus dinyatakan terpilih jika mendapat 2/3 suara kardinal. Para kardinal harus menulis paus pilihan mereka dalam sebuah kertas pemilihan. Sidang paus tidak selalu lancar. Suara 2/3 tidak serta merta diperoleh dalam sekali putaran. 

Jika paus tidak terpilih dalam sebuah putaran, kertas-kertas pemilihan dikumpulkan dan dibakar bersama cairan yang mengeluarkan asap hitam dari cerobong Kapel Sistina yang terlihat jelas dari lapangan Santo Petrus. Asap hitam yang membubung menjadi tanda bagi umat yang menunggu di lapangan Santo Petrus bahwa para kardinal belum berhasil memilih seorang paus. Sementara,  jika paus baru berhasil terpilih, kertas pemilihan akan dibakar bersama cairan yang menghasilkan asap putih. Asap putih inilah yang ditunggu-tunggu umat. Paus baru terpilih.

Menjelang berlangsungnya konklaf selepas wafatnya Paus Yohanes Paulus II pada April 2005, nama Ratzinger sudah disebut-sebut sebagai calon kuat paus baru. Ada anekdot seputar konklaf, mereka yang masuk sebagai paus akan keluar sebagai kardinal. Artinya, mereka yang disebut-sebut sebagai calon kuat acapkali tidak terpilih.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam sejarah Gereja Katolik Roma, selalu sulit untuk menerka siapakah paus baru yang akan muncul sebagai hasil konklaf. Namun, saat itu sejarah telah memilih jalannya sendiri. Ratzinger yang masuk sebagai “paus” keluar dan muncul di balkon Basilika Santo Petrus sebagai paus.

Pemungutan suara dalam konklaf yang memilih Kardinal Joseph Ratzinger pada April 2005 berlangsung tiga kali yaitu pada Senin (18/4/2005) pagi dan dua kali pada Selasa (19/4/2005) petang. Pada pemilihan ketiga akhirnya sidang 115 kardinal memilih Kardinal Joseph Ratzinger. Kertas pemilihan suara dibakar pada pukul 17.50 waktu setempat dan asap putih keluar dari cerobong Kapel Sistina. Lima belas menit kemudian lonceng Basilika Santo Petrus berdentang. Gereja Katolik mengimani, para kardinal yang mengikuti konklaf dituntun oleh providentia Dei, penyelenggaraan Ilahi. Dan, Roh Tuhan itu jatuh pada Kardinal tua Joseph Ratzinger.

Asap putih yang membubung tinggi ke langit diikuti tepuk tangan meriah ribuan umat yang berkumpul di lapangan Santo Petrus. Tak lama Kardinal Joseph Ratzinger muncul di balkon Basilika menyapa umat dan memberikan berkat kepausannya yang pertama, ubi et orbi, untuk Roma dan dunia. Ia memilih mengenakan nama Paus Benediktus XVI.

"Saudara-saudaraku yang terkasih, setelah Paus Yohanes Paulus II, para kardinal telah memilih saya, seorang hamba sederhana yang bekerja di kebun anggur Tuhan," ucap Ratzinger dalam bahasa Italia saat itu.

"Kenyatannya Tuhan sendirilah yang berkarya dan bertindak dalam segala hal yang kurang, itulah yang menghibur saya. Di atas semua itu, saya juga mempercayakan diri saya pada doa-doa Anda. Dalam kebahagiaan kebangkitan Tuhan, kita akan berjalan dalam bimbingan-Nya. Dia akan membantu kita dan Bunda Maria juga akan mendampingi kita. Terimakasih," tambahnya.

Saat itu, banyak pihak memperkirakan, Paus Benediktus XVI tidak akan lama duduk di tahta suci karena usianya.  Perkiraan itu kini terbukti. Dibanding paus sebelumnya, kepemimpinan Paus Benediktus XVI memang sangat singkat, hampir delapan tahun. Ia mengumumkan akan meletakkan jabatannya pada 28 Februari 2013 pukul 20.00 waktu setempat.  Paus sebelumnya, Paus Yohanes Paulus II, memimpin tahta Santo Petrus selama 27 tahun, sejak 16 Oktober 1978 hingga 2 April 2005.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.