Misi Perancis Berakhir Maret

Kompas.com - 07/02/2013, 02:20 WIB
Editor

TIMBUKTU, Rabu - Presiden Perancis Francois Hollande menegaskan, pasukannya yang kini sedang memerangi kelompok ekstremis di Mali utara akan segera mengakhiri misinya pada akhir Maret. Pernyataan Hollande itu dikemukakan dalam rapat kabinet, Rabu (6/2), di Paris, meskipun rencana itu masih tergantung pada perkembangan situasi di Mali.

Juru bicara Pemerintah Perancis, Najat Vallaud-Belkacem, mengatakan, dalam rapat kabinet itu, Hollande ”mengonfirmasi bahwa semuanya berjalan sesuai rencana. Menjelang akhir Maret, pasukan Perancis yang berada di Mali dapat mulai ditarik”.

Vallaud-Belkacem menuturkan, penarikan pasukan itu akan tergantung pada perkembangan penempatan pasukan Afrika. Diharapkan pasukan internasional dapat mengamankan Mali dan membantu militernya yang masih lemah agar terus menjaga perdamaian di negara itu.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Perancis Laurent Fabius dalam wawancara di harian Metro terbitan Selasa (5/2) mengatakan, misi Perancis di Mali akan dikurangi sejak awal Maret. Fabius diwawancarai setelah pasukan Perancis dan Chad mengendalikan markas utama milisi di Kidal, Mali utara, Selasa.

Pasukan dan pesawat tempur Perancis juga menarget tempat persembunyian milisi di gurun Sahara yang sepi penduduk. Ada kekhawatiran, milisi ekstremis yang melarikan diri dari kota-kota di Mali utara selama operasi mencoba melakukan serangan dari basis-basis mereka di daerah terpencil.

”Saya berpikir, mulai Maret, jika semuanya berjalan sesuai rencana, jumlah pasukan kita harus mulai dikurangi,” kata Fabius sebagaimana dikutip harian itu.

Fabius menekankan, ancaman teroris masih ada dan pertempuran belum berakhir. Namun, pasukan Afrika dan Mali mesti mengambil alih dan meneruskan tanggung jawab menjaga keamanan di Mali. Hingga Selasa, 4.000 tentara Perancis terlibat operasi di Mali. Jumlah itu hampir setara dengan tentara Perancis yang ikut misi 11 tahun di Afganistan.

”Perancis tidak ingin secara permanen berada di Mali. Ini adalah urusan orang-orang Afrika dan rakyat Mali sendiri yang harus menjamin keamanan, integritas teritorial, dan kedaulatan negaranya,” kata Fabius.

”Kita akan secara progresif menyerahkan tongkat komando kepada misi militer Afrika di Mali (AFISMA). Kami sendiri akan terus bertindak di utara, tempat masih ada kantong-kantong pemberontak,” tuturnya.

Fabius menjelaskan, tahap pertama dari operasi itu sangat efektif dalam memblokir kelompok pemberontak dan merebut kembali kota-kota di utara. ”Kelompok-kelompok teroris telah dilumpuhkan. Namun, kita harus tetap berjaga-jaga karena risiko masih ada,” katanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.