Kompas.com - 01/02/2013, 12:06 WIB
EditorEgidius Patnistik

LONDON, KOMPAS.com — Hari Hijab Sedunia mulai diperingati pada 1 Februari 2013, dengan menyerukan perempuan non-Muslim untuk menggunakan jilbab. Apakah langkah ini dapat meningkatkan toleransi dan saling memahami?

"Saya tidak terlatih menggunakan apa yang Anda sebut sebagai jilbab, anda tinggal memasukkannya ke kepala Anda. Namun saya menemukan bahwa jangkauannya sangat luas. "

Itu yang dikatakan Jess Rhodes, 21 tahun, seorang mahasiswi dari Norwich Inggris. Dia sangat ingin mencoba penutup kepala, tetapi sebagai seorang non-Muslim, dia tak pernah berpikir bahwa itu merupakan sebuah pilihan.

Jadi ketika temannya memberikan peluang untuk memakai jilbab, dia menyanggupinya. "Dia meyakinkan saya bahwa saya tidak perlu menjadi Muslim, ini hanya soal kesopanan, meskipun dikaitkan dengan Islam, jadi saya pikir, mengapa tidak?"

Rhodes merupakan salah satu dari ratusan non-Muslim yang akan menggunakan jilbab dalam peringatan pertama Hari Hijab Sedunia pada 1 Februari.

Jejaring sosial

Peringatan yang diorganisasi oleh seorang perempuan asal New York, Nazma Khan, dan disebarkan melalui situs jejaring sosial ini telah menarik perhatian Muslim dan non-Muslim di lebih dari 50 negara di seluruh dunia.

Bagi banyak orang, hijab merupakan simbol penindasan dan perbedaan, dan menjadi perdebatan—mengenai Islam—di negara-negara Barat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hari Hijab Sedunia dirancang untuk meredakan kontroversi itu, dan mendorong perempuan non-Muslim (atau perempuan Muslim yang tidak menggunakannya) untuk menggunakan dan mengalami seperti apa menggunakan jilbab, sebagai bagian dari upaya untuk saling memahami.

"Tumbuh di Bronx, di NYC, saya mengalami diskriminasi yang besar karena hijab saya," kata penyelenggara, Khan, yang pindah ke New York dari Banglades pada usia 11 tahun. Dia merupakan satu-satunya hijabi (istilah untuk pemakai jilbab) di sekolahnya.

"Di sekolah menengah, saya ibarat 'Batman' atau 'ninja,'" kata dia. "Ketika saya kuliah tak lama setelah peristiwa 9/11, mereka memanggil saya Osama bin Laden atau teroris. Itu sangat mengerikan. Saya berpikir, satu-satunya cara untuk mengakhiri diskriminasi ini adalah jika kita meminta rekan kita untuk merasakan sendiri pengalaman berhijab."

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.