Kompas.com - 30/01/2013, 21:22 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com - In vitro fertilization (IVF) atau lebih dikenal sebagai bayi tabung sudah dikenal sejak tahun 1980-an.  Setiap tahunnya, para ahli menawarkan teknik terbaru bayi tabung yang semakin disempurnakan sehingga peluang kehamilan lebih besar.

Dr.Jamie Grifo, direktur NYU Fertility Center di kota New York, AS, menjelaskan, kromosom yang sehat serta pemilihan embrio yang tepat sangat penting untuk keberhasilan kehamilan dan implantasi ke rahim.

IVF tradisional dilakukan dengan cara merangsang ovarium menghasilkan sejumlah sel telur. Kemudian sel telur ini akan diambil dan dibuahi oleh sel sperma di cawan patri. Embrio hasil pembuahan itu dikembangkan dalam seting laboratorium. Dokter akan mengambil embrio yang paling sehat, yang dianggap paling bertahan, kemudian diimplan ke dalam rahim.

Tantangannya adalah bagaimana mengetahui apakah sebuah embrio itu yang paling baik? Mengimplan beberapa embrio sekaligus memang dihindari karena bisa menyebabkan kehamilan kembar yang akhirnya akan meningkatkan komplikasi. Tak jarang bayi kembar terpaksa lahir prematur.

Usia sel telur wanita juga berpengaruh pada keberhasilan kehamilan. "Wanita berusia 30 tahun punya peluang kehamilan 58 persen. Di usia 40 tahun, peluangnya turun sampai 27 persen," kata Grifo.

Ia menambahkan, makin tua usia sel telur, makin besar kemungkinan terjadinya gangguan kromosom seperti down syndrome.

Para ahli kini mencoba pendekatan baru yakni melakukan pengetesan kromosom di embrio dan juga sel-sel yang akan berkembang menjadi plasenta. Analisis embrio tersebut dilakukan secara komperhensif.

Sambil menunggu hasilnya, embrio akan dibekukan. Begitu hasil tes diketahui, akan dipilih embrio yang kromosomnya normal. Kemudian dokter akan mengimplan satu embrio sehat. Dengan cara ini, calon ibu hanya akan mengandung satu janin sehingga kehamilan lebih sehat sampai waktunya melahirkan.

Jika dulu dokter melakukan implan embrio di hari kedua atau ketiga, kini implantasi dilakukan di hari kelima. Tambahan waktu tersebut dimanfaatkan untuk memilih embrio yang kurang baik.

"Dengan pendekatan ini, kesempatan calon ibu mendapatkan bayi yang sehat lebih besar," kata Grifo yang mempublikasikan metodenya dalam Journal of Assisted Reproduction and Genetics.

Namun pendekatan terbaru dalam teknik bayi tabung ini membuat biaya lebih mahal dibanding prosedur standar. Menurut Grifo, sebenarnya metode ini justru menghemat biaya akibat kelahiran prematur bayi kembar dan juga bisa menekan risiko keguguran.

Di Jakarta sendiri, beberapa klinik kesuburan juga mulai menerapkan pengembangan embrio di luar rahim untuk jangka waktu lebih lama demi memperoleh embrio unggulan. Peluang kehamilan pun lebih besar.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.