Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 22/01/2013, 18:35 WIB
|
EditorFarid Assifa

DENPASAR, KOMPAS.com — Esra Karo-Karo Kaban, kuasa hukum Lindsay June Sandiford, terkejut mendengar putusan majelis hakim yang memvonis mati kliennya dalam sidang di Pengadilan Negeri Denpasar, Selasa (22/1/2013). Setelah berkoordinasi dengan pihak keluarga, Esra akan mengajukan banding atas putusan ini.

"Saya cukup kaget karena saya pikir tidak seberat itu hukumannya," ujar Esra seusai sidang. "Saya sudah bicara dengan kakak Hillary, dia meminta informasi bagaimana cara mengajukan banding dan kami akan menempuh banding," imbuhnya.

Sementara jaksa penuntut umum (JPU), Lie Putra Setiawan, masih pikir-pikir terhadap putusan ini. "Itu semua kewenangan hakim dan masih sesuai aturan. Kami punya hak untuk pikir-pikir," kata Setiawa.

Seperti diberitakan, Lindsay yang dikenal sebaga "ratu kokain" Inggris dijatuhi vonis mati karena terbukti bersalah mengimpor narkoba jenis kokain seberat 4,7 kg dari Bangkok ke Bali pada Mei 2012. Hakim menjerat Lindsay dengan Pasal 113 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, yang ancaman hukuman maksimalnya mati.

Lindsay ditangkap aparat Bea Cukai Ngurah Rai setibanya dari Bangkok, Thailand, karena di kopernya ditemukan 4,7 kilogram kokain pada Mei 2012 lalu. Dari hasil pengembangan Lindsay, aparat Bea Cukai, yang bekerja sama dengan polisi, berhasil membekuk tiga warga Inggris lainnya yang diduga terlibat penyelundupan narkoba tersebut.

Mereka yang diduga terkait jaringan narkoba itu berasal dari Inggris, yakni Rachel Lisa dougall, Julian Anthony Ponder, dan Paul Beales. Mereka juga disidang di Pengadilan Negeri Denpasar dalam berkas terpisah. Rachel dan Paul yang tak terbukti terlibat hanya divonis 1 dan 4 tahun, sementara Julian masih menunggu vonis pada 29 januari. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.