Baterai B787 ANA Hangus

Kompas.com - 19/01/2013, 03:48 WIB
Editor

TOKYO, JUMAT - Tim penyelidik Jepang menemukan baterai utama pesawat Boeing 787 Dreamliner milik maskapai All Nippon Airways yang mendarat darurat, Rabu lalu, dalam keadaan hangus dan meleleh sebagian. Diduga telah terjadi beban listrik yang terlalu besar.

Pesawat Dreamliner All Nippon Airways (ANA) itu mendarat darurat di Bandar Udara Takamatsu, Jepang barat, setelah indikator di kokpit menunjukkan adanya masalah pada baterai utama dan tercium bau hangus di kokpit dan kabin penumpang.

Insiden itu menjadi puncak berbagai masalah yang menimpa sejumlah pesawat 787 secara berturut-turut sejak 7 Januari. Hal itu membuat otoritas penerbangan sipil dan sejumlah maskapai melarang terbang pesawat tipe itu di seluruh dunia.

Para penyelidik dari Badan Keselamatan Transportasi Jepang (JTSB) mengambil baterai-baterai itu dari tempat penyimpanannya di bawah kokpit, Kamis. Mereka kemudian merilis foto-foto baterai tersebut, Jumat.

Salah satu baterai terlihat hangus di bagian wadah pelindungnya. Tutup baterai itu juga terlihat menggembung dan hangus di bagian pinggir.

Bagian dalam baterai, termasuk kabel-kabel dan delapan sel baterainya, tampak hangus. Di bagian samping juga terlihat jejak leleran cairan elektrolit baterai yang meluap keluar.

Penyelidik JTSB, Hideyo Kosugi, mengatakan, baterai tersebut diduga telah kelebihan beban listrik. ”Saya yakin arus listrik yang terlalu besar atau tegangan yang terlalu tinggi telah mengalir ke baterai itu,” tuturnya dalam jumpa pers.

Empat penyelidik dari AS, yang terdiri atas perwakilan Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB), Badan Penerbangan Federal AS (FAA), dan penyelidik dari Boeing, tiba di Takamatsu, Jumat. Mereka membantu penyelidikan untuk mengetahui apa penyebab masalah pada pesawat terbaru buatan Boeing itu.

Kosugi mengatakan, ada kesamaan antara masalah yang terjadi pada baterai Dreamliner milik ANA itu dan masalah pada baterai Dreamliner milik Japan Airlines (JAL) yang terbakar saat parkir di Bandar Udara Internasional Logan, Boston, AS, 7 Januari lalu.

Masalah pada baterai tersebut dianggap sangat serius karena Dreamliner mengandalkan tenaga listrik dari baterai-baterai ini untuk menggerakkan hampir semua bagiannya. Secara khusus, pesawat itu dilengkapi baterai-baterai litium-ion yang lebih praktis dan lebih cepat diisi ulang, tetapi juga berisiko lebih cepat panas.

Alih daya

Sejumlah pengamat penerbangan menyebut strategi Boeing untuk mengalihdayakan sebagian besar produksi komponen B787 sebagai salah satu kemungkinan penyebab berbagai masalah yang terjadi.

Berbeda dengan pesawat-pesawat Boeing sebelumnya, yang banyak menggunakan komponen buatan sendiri, Dreamliner menggunakan banyak komponen produksi perusahaan lain. Richard Tortoriello, analis penerbangan dari Standard & Poor’s, menyebut sekitar 70 persen komponen B787 diproduksi oleh 50 perusahaan berbeda di sejumlah negara.

Besarnya proporsi alih daya produksi ini juga menjadi salah satu penyebab tertundanya pengiriman pesawat B787 perdana hingga lebih dari 3 tahun dari jadwal semula.

Reuters mencatat, dari Jepang saja ada 17 perusahaan yang memproduksi berbagai komponen Dreamliner. Salah satu perusahaan itu adalah GS Yuasa Corp, yang mendapat jatah membuat baterai-baterai litium-ion.

Harga saham GS Yuasa turun sekitar 18 persen sejak masalah pada baterai itu pertama kali muncul. Perusahaan itu mengirim tiga anggota stafnya untuk membantu penyelidikan.

Meskipun demikian, pihak GS Yuasa berusaha membela diri dengan mengatakan, baterai-baterai produksinya hanya satu bagian dari keseluruhan sistem di pesawat itu.

Juru bicara GS Yuasa juga mengatakan, pihaknya mengirim dulu baterai-baterai itu ke perusahaan Thales di Perancis, yang menggabungkan baterai itu dengan sistem pengisian listriknya.

Kosugi menambahkan, baterai-baterai itu akan dibawa ke Tokyo untuk penyelidikan lebih lanjut dan hasil penyelidikan awal akan keluar dalam waktu seminggu.

Selain baterai, pesawat itu juga bermasalah pada bagian mekanisme katup saluran bahan bakar yang menyebabkan kebocoran, pekan lalu. Kementerian Transportasi Jepang menyebutkan, masalah itu terjadi pada komponen buatan satu perusahaan dari Inggris.(AFP/AP/Reuters/DHF)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.