Kompas.com - 16/01/2013, 15:49 WIB
EditorEgidius Patnistik

DHAKA, KOMPAS.com - Polisi melepaskan tembakan gas air mata dan meriam air terhadap demonstran saat pemogokan menentang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang menyebabkan sebagian Banglades lumpuh, Rabu (16/1).

Satu koalisi partai berhaluan kiri termasuk Partai Komunis Bangladesh, menyerukan pemogokan itu untuk memprotes kenaikan harga disel, minyak tanah dan bensin. Koalisi itu mengatakan kenaikan tersebut akibat tekanan dari Dana Moneter Internasional (IMF).

Sebagian besar sekolah, toko dan perusahaan swasta tutup di ibu kota Dhaka, jalan-jalan Dhaka yang biasanya ramai kini sebagian besar sepi dan kendaraan bermotor tidak terlihat. Hal itu berdampak pada pengiriman barang-barang dari pelabuhan-pelabuhan.

Polisi melepaskan tembakan gas air mata ke sejumlah aktivis dekat kantor pusat Partai Komunis di Dhaka setelah mereka berusaha membarikade satu jalan penting dan memukul kendaraan-kendaraan, kata kepala kepolisian setempat, Golam Sarwar, kepada AFP.

"Mereka membuat kerusuhan dan membakar ban-ban di jalan-jalan," katanya.

Sarwar mengatakan tidak ada yang cedera dalam bentrokan itu. Harian Daily Star mengatakan beberapa orang cedera dan polisi menggunakan semprotan lada untuk membubarkan para aktivis.

Polisi juga menyemprotkan air berwarna dari satu meriam air ke para pemrotes di sebuah persimpangan jalan, kata seorang koresponden AFP yang berada di lokasi itu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pemogokan itu adalah yang kedelapan di negara miskin yang dilanda konflik politik itu dalam enam pekan belakangan ini. Partai-partai oposisi utama negara itu juga menyelenggarakan pemogokan pada 4 Januari untuk memprotes kenaikan harga bahan bakar minyak terakhir. Mereka juga melakuan serangkaian pemogokan bulan lalu untuk menuntut pemilu dibawah satu pemerintah peralihan yang dipimpin teknokrat yang netral.

Bangladesh pada 3 Januari menaikkan harga minyak sebesar 11 persen. Pemerintah mengatakan kenaikan itu diperlukan untuk mengurangi subsidi energi yang meningkat negara itu. Pemerintah mengatakan kenaikan itu akan menghemat lebih dari 300 juta dolar AS keuangan negara.

Partai-partai berhaluan kiri mengatakan kenaikan harga itu adalah salah satu dari serangkaian tekanan IMF untuk menjamin cairnya pinjaman lunak satu miliar dolar AS yang telah disetujui diberikan kepada Bangladesh pada April tahun lalu

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.