Rusia: Assad Tak Bisa Dikecualikan

Kompas.com - 15/01/2013, 02:18 WIB
Editor

MOSKWA, SENIN - Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengingatkan, upaya menyingkirkan Presiden Suriah Bashar al-Assad dari proses transisi kekuasaan bukan bagian dari kesepakatan yang dicapai pada Komunike Geneva, 30 Juni lalu.

Menurut Lavrov, Minggu (13/1), mengecualikan Assad dalam proses itu tak akan pernah bisa diimplementasikan. ”Presiden Assad sebelumnya berinisiatif mengundang oposisi berdialog. Ya, memang inisiatif itu tak akan berjalan jauh atau dipandang serius beberapa kalangan. Namun, hal itu adalah sebuah tawaran,” ujar Lavrov.

Rusia menegaskan kembali dukungannya terhadap rencana proses transisi kekuasaan seperti tercantum dalam Komunike Geneva, menuju pemerintahan baru di negeri itu. Namun, hingga kini kesepakatan itu belum bisa dijalankan karena pertempuran terus berkecamuk.

Komunike Geneva menyebut adanya peralihan kekuasaan di Suriah kepada pemerintah sementara. Namun, tidak dijelaskan apakah pemerintah sementara itu akan melibatkan Assad. Kesepakatan itu terus diperjuangkan oleh utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Liga Arab untuk Suriah, Lakhdar Brahimi. Namun, baik Brahimi, negara Barat, maupun oposisi Suriah sama-sama tak ingin Assad dilibatkan.

”Jika pengusiran Presiden Suriah menjadi prasyarat, saya harus katakan harga yang akan dibayarkan dari pendekatan seperti itu akan sangat mematikan. Mereka yang mendukung harus bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi kelak,” ujar Lavrov.

ICC

Sebanyak 55 negara, dikoordinasi oleh Swiss, menandatangani surat tuntutan agar Dewan Keamanan PBB merujuk konflik yang terjadi di Suriah untuk diselidiki sebagai kejahatan perang oleh Mahkamah Kriminal Internasional (ICC). Sejak tujuh bulan terakhir, Swiss mengumpulkan tanda tangan dukungan itu untuk diserahkan kepada DK PBB sebagai satu-satunya badan dunia yang bisa merujuk kasus tertentu ke ICC.

Sementara itu, dua surat kabar corong Pemerintah Suriah, Al-Thawra dan Al-Baath, mengolok-olok sepak terjang Brahimi. Kedua media itu menyebutnya seorang ”wisatawan gaek”, yang hanya berjalan-jalan dari satu kota ke kota lain di dunia tanpa memberi solusi apa pun.

”Bila dia tak punya solusi sebaiknya dia pergi meninggalkan Suriah. Tiga kunjungan singkat, tetapi dia tak mendatangi provinsi lain untuk mendengar opini berbeda dari rakyat Suriah. Dia merasa cukup hanya dengan bertemu Duta Besar Amerika Serikat Robert Ford,” kata Al-Baath.

Pertempuran terus terjadi di Suriah, dan serangan udara artileri Assad, Minggu (13/1), menewaskan 45 orang, termasuk delapan anak kecil. Serangan diarahkan ke kawasan pinggiran kota Damaskus, distrik Ghouta timur. (AFP/REUTERS/AP/DWA)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X