Kompas.com - 11/01/2013, 17:03 WIB
EditorErvan Hardoko

ISLAMABAD, KOMPAS.com - Serangkaian serangan bom yang menewaskan 115 orang sepanjang Kamis (10/1/2013) menimbulkan kekhawatiran akan meningkatnya kekerasan menjelang pemilihan umum negeri itu.

Dua pengebom bunuh diri meledakkan sebuah klub biliar yang padat pengunjung di kota Quetta, Provinsi Baluchistan. Tragedi ini menewaskan 82 orang dan melukai 121 orang lainnya. Serangan ini terjadi di kawasan yang dihuni etnis minoritas Hazara yang memeluk Syiah.

Sebelum bom klub biliar, di hari yang sama, sebuah kendaraan militer Pakistan yang sedang melintasi kawasan padat Quetta diledakkan. Akibatnya 11 orang tewas dan puluhan lainnya terluka.

Dua insiden ledakan nampaknya belum cukup, satu bom lagi meledak di Lembah Swat dalam sebuah acara keagamaan menewaskan 22 orang dan melukai 80 orang lainnya. Serangan ini adalah yang terburuk di Lembah Swat sejak militer Pakistan memerangi Taliban pada 2009 lalu.

Dalam insiden itu, sembilan anggota polisi, tiga wartawan lokal, sejumlah petugas penyelamat dan juru bicara pasukan paramiliter Frontoer Corps termasuk di antara korban tewas.

Secara keseluruhan, serangan bom di Quetta dan Lembah Swat ini adalah serangan paling mematikan sejak dua pengebom bunuh diri menewaskan 98 orang di luar pusat pelatihan polisi di kota Shabqadar, 13 Mei 2011. Insiden ini terjadi tak lama setelah pasukan AS menewaskan Osama bin Laden.

Akibat kejadian ini, Pemerintah Pakistan menyatakan tiga hari berkabung di Balulchistan dan memberi kompensasi sebesar 20.650 dollar AS atau hampir Rp 200 juta untuk keluarga polisi yang menjadi korban tewas dan separuhnya untuk korban warga sipil.

Kelompok militan Lashkar-e-Jhangvi mengklaim berada di balik tiga serangan bom itu. Kelompok ini memiliki kaitan dengan Al-Qaeda dan Taliban. Kelompok ini juga yang menculik dan memancung wartawan Daniel Pearl pada Januari 2002.

Serangkaian serangan maut ini menurut sejumlah analis merupakan peringatan bahwa kelompok-kelompok militan ini bisa mengancam jalannya pemilu, yang direncanakan akan digelar pada Mei mendatang.

"Pemerintah benar-benar kehilangan kendali. Serangan bom terjadi berurutan. Saya kira kondisi ini sangat mengganggu jalannya pemilu," kata pengamat keamanan dan politik, Letjen Purnawirawan Talat Masood.

"Terganggunya hukum dan keteraturan akan sangat memengaruhi pemilu. Pemerintah nampaknya sama sekali tak memiliki rencana soal keamanan dan belum ada langkah sama sekali untuk menjamin keselamatan warga," tambah dia.

Namun, seorang pejabat senior di Quetta, Mohammad Hashim, membantah kekerasan sektarian yang kerap terjadi di Provinsi Baluchistan memiliki kaitan dengan rencana digelarnya pemilu.

"Kekerasan sektarian sudah terjadi di negeri ini selama lebih dari satu dekade. Kondisi ini mungkin mempengaruhi situasi keamanan, namun saya kira tak memiliki dampak apapun terhadap pemilu. Ini bukan kekerasan politik, ini kekerasan sektarian," ujar Hashim.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.