Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 09/01/2013, 10:41 WIB
EditorEgidius Patnistik

NEW DELHI, KOMPAS.com Para perempuan muda di sebuah desa di India dilarang mengenakan jeans dan T-shirt. Para tetua desa mengatakan, pakaian semacam itu mendorong terjadinya pemerkosaan.

Para tetua di Khedar, wilayah Hisar di India barat laut, menerapkan larangan itu sebagai bagian dari serangkaian langkah yang dirancang untuk mengurangi serangan seksual. Alkohol juga telah dilarang dan penyelenggara DJ party kini didenda sebesar 11.000 rupee (sekitar Rp 2 juta).

Perlakuan terhadap perempuan di India tengah mendapat sorotan tajam beberapa pekan terakhir menyusul kematian seorang mahasiswi fisioterapi berusia 23 tahun setelah diperkosa sekelompok orang di sebuah bus di New Delhi. India pun dilanda gelombang protes sejak kasus itu muncul. Para demonstran menuntut hak-hak perempuan dan hukuman yang keras terkait pemerkosaan. Mereka juga menyerukan agar pelaku pemerkosaan dihukum gantung.

Tokoh di Desa Khedar, Sarpanch Shamsher Singh, mengatakan kepada Times of India, "Kami telah memutuskan untuk melarang alkohol karena itu merupakan alasan utama di balik perkosaan. Kami juga telah melarang celana jeans dan T-shirt bagi para siswi karena itu bukan gaun yang pantas."

Namun, walau keputusan itu mungkin tidak populer di kalangan anak muda di desa, keputusan tersebut disambut baik oleh para warga yang lebih tua. Shanti Devi, seorang perempuan paruh baya, mengatakan, "Keputusan panchayat (para tetua) itu baik dan akan menekan pelecehan terhadap para gadis. Pakaian yang tak pantas merupakan alasan utama di balik perkosaan."

Mahaveer Singh, seorang warga desa, menambahkan, "Kami menyambut keputusan panchayat dan siapa pun yang menyelenggarakan sebuah DJ party di desa akan didenda 11.000 rupee. Tujuan utama kami adalah untuk menutup toko-toko alkohol di desa karena minuman keras merupakan alasan utama di balik serangan terhadap perempuan."

Sementara itu, hakim kemarin memerintahkan sidang terhadap lima tersangka pemerkosa dan pembunuh mahasiswi fisioterapi di Delhi itu digelar tertutup demi keselamatan para tersangka sendiri setelah adegan ruang sidang yang kacau. Lebih dari 150 orang mencoba untuk memasuki ruang sidang yang hanya cukup untuk 30 orang pada sidang pertama para pria yang didakwa melakukan pemerkosaan, penculikan, dan pembunuhan terhadap gadis itu yang kata ayahnya bernama Jyoti Singh Pandey.

Mahasiswi itu meninggal di sebuah rumah sakit Singapura 13 hari setelah diserang saat ia pulang dari sebuah bioskop di New Delhi pada pertengahan Desember lalu. Gadis itu, yang tak diungkap indetitasnya oleh pihak berwajib karena alasan hukum, dilempar ke jalan raya dalam kondisi telanjang dari kendaraan yang sedang bergerak. Ia dan teman prianya tergeletak sampai setengah jam sebelum akhirnya ada orang yang memanggilan layanan darurat. Gadis meninggal karena luka-lukanya.

Berdasarkan data pemerintah India, jumlah kasus pemerkosaan yang dilaporkan di negara itu meningkat hampir 17 persen pada periode 2007-2011. Di New Delhi, yang dikenal sebagai "ibu kota pemerkosaan India", pemerkosaan dilaporkan terjadi setiap 18 jam.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com