PBB Kecam Israel Soal Permukiman Baru

Kompas.com - 21/12/2012, 04:10 WIB
Editor

new york, jumat - Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Dewan Keamanan PBB, Rabu (19/12), mengecam pembangunan permukiman Israel di dalam wilayah otoritas Palestina. Langkah Israel itu mengancam upaya perdamaian yang sedang dilakukan komunitas internasional.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon serta utusan PBB Rusia, China, dan beberapa negara Uni Eropa (UE) memperingatkan Israel jika terus nekat mewujudkan proyek barunya itu. Tel Aviv berniat membangun ribuan rumah baru, dan sebagian di antaranya telah disetujui dalam beberapa pekan terakhir untuk dibangun di daerah okupasi Israel.

Ban mengatakan, proses perdamaian Israel-Palestina berada dalam ”kebekuan”. Hal itu diperburuk lagi oleh kebijakan baru Israel. ”Saya menyerukan Israel menahan diri dengan tidak melanjutkan jalan berbahaya ini, yang akan merusak prospek bagi dimulainya kembali dialog damai dan masa depan yang damai bagi Palestina dan Israel,” katanya.

Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Susan Rice, tidak bergabung mengecam proyek Israel. Namun, Rice menyalahkan sekutu utama AS itu karena telah melakukan tindakan ”provokatif” terhadap apa yang telah diputuskan dalam sidang Majelis Umum (MU) PBB bulan lalu.

Tel Aviv menyetujui proyek pembangunan hampir 3.000 rumah baru di Jerusalem Timur dan Tepi Barat tak lama setelah sidang MU PBB, 29 November lalu, menerima Palestina sebagai negara peninjau non-anggota. Balasan Israel atas langkah Palestina itu adalah mengizinkan pembangunan 2.610 rumah baru di Jerusalem Timur. Adapun tender proyek pembangunan 1.048 rumah di Tepi Barat telah dilakukan sebelum sidang itu.

Wakil Ketua Komisi Eropa Urusan Luar Negeri Catherine Ashton mengatakan, pembangunan 2.610 rumah di Givat Hamatos dan lebih dari 1.000 unit di Ramat Shlomo akan memisahkan Bethlehem dari Jerusalem. ”Saya menentang perluasan pembangunan itu,” katanya.

UE menentang rencana Israel karena benar-benar merusak masa depan penyelesaian konflik dengan mengacaukan kemungkinan terwujudnya negara Palestina dan Jerusalem Timur sebagai ibu kota. ”Mengingat solusi dua negara merupakan tujuan utama, UE akan cermat memantau situasi dan dampak yang lebih luas serta akan melakukan tindakan yang tepat,” katanya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Meski terus ditekan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netayahu menegaskan, proyek tetap jalan. Tak ada langkah mundur.

(AFP/AP/REUTERS/CAL)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.