Kompas.com - 16/12/2012, 11:20 WIB
|
EditorMarcus Suprihadi

YANGON, KOMPAS.com- Pemerintah Myanmar resmi meminta maaf kepada para rahib Buddha di negeri itu, menyusul bentrokan yang terjadi antara aparat keamanannya dan para demonsrtan. Sebanyak 100 orang yang terluka dalam aksi unjuk rasa menentang praktik pertambangan tembaga di pusat kota Mandalay itu beberapa waktu lalu adalah para pendeta Buddha.

Permintaan maaf diajukan melalui juru bicara Kantor Kepresidenan Myanmar, Hla Tun, Minggu (16/12/2012).

Dalam peristiwa itu, polisi menggunakan meriam air, gas air mata, dan bom gas untuk mengusir para pengunjuk rasa yang telah menduduki proyek tambang tembaga Letpadaung sejak 11 hari terakhir hingga insiden terjadi, 29 Noember lalu.

Perusahaan tambang kerjasama pemodal China dan perusahaan milik militer itu diketahui selama ini telah lama memicu masalah sosial dan lingkungan hidup di kawasan tersebut. Para pengunjuk rasa mendesak proyek pertambangan tersebut dihentikan operasinya.

Pascakejadian, para pendeta Buddha di Yangon dan Mandalay menggelar aksi unjuk rasa lanjutan mendesak pemerintah meminta maaf atas kejadian tersebut. Ratusan bhiksu menggelar aksi jalan kaki, Rabu pekan lalu, secara serentak di dua kota besar di Myanmar, Mandalay dan Yangon.

Sejumlah aksi serupa juga digelar sedikitnya di enam kota kecil, termasuk di kota dekat lokasi pertambangan, Monywa.

Menurut salah seorang pendeta Buddha pemimpin aksi unjuk rasa, Shin Wirathu, mereka puas dengan permintaan maaf yang diajukan pemerintah kali ini. Permintaan maaf sebelumnya telah disampaikan pemerintah namun dinilai diajukan ke orang-orang yang salah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sabtu kemarin, sejumlah pejabat seperti Menteri Kesehatan Pe Thet Khin, Kepala Polisi Kyaw Kyaw Tun, dan Kepala Kementerian Wilayah sagaing Thar Aye menyatakan permohonan maaf namun ditolak.

"Sekarang kami puas setelah pemerintah meminta maaf secara publik dan legal. Sangat menyenangkan pihak-pihak yang memang seharusnya bertanggung jawab dalam kejadian itu meminta maaf langsung pada para pendeta yang terluka. Kami melihat peristiwa ini sangat bersejarah. Namun masalah ini bisa dimaafkan namun tak bisa dilupakan," ujar Shin.

Shin menambahkan pula, pemerintah telah berjanji tak akan mengulang kejadian serupa. Dalam peristiwa itu diketahui 34 orang pendeta Buddha terluka. Tiga orang masih dirawat di rumah sakit di Mandalay sementara seorang lagi bahkan harus sampai dibawa ke Thailand untuk menjalani perawatan.

Kebanyakan dari para korban luka menderita luka bakar, yang oleh para pengunjuk rasa disebut-sebut disebabkan oleh alat pembakar yang digunakan aparat polisi di lapangan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.