Kompas.com - 09/12/2012, 15:18 WIB
EditorHeru Margianto

Kondisi jalan ke Gaza City tidak jauh berbeda dengan empat tahun lalu, ketika kami melewati jalan itu untuk meliput perang, Desember 2008-Januari 2009. Ada yang lebar, ada yang tiba-tiba menyempit, bergelombang, dan hancur.

Rumah di kiri-kanan jalan juga tak jauh berbeda. Masih ada beberapa bangunan yang ambruk, yang di masa perang dulu dibom pesawat tempur Israel. ”Kalau rumah itu digempur Israel dalam perang terakhir, dua minggu lalu,” kata Human yang tiba-tiba berhenti di depan sebuah bangunan yang runtuh.

Tahrir

Setelah 60 menit menyusuri Jalan Saladin dari Rafah, kami tiba di Gaza City. Lalat dari Rafah ikut sampai ke Gaza City. Wajah Gaza City tidak banyak berubah dibandingkan dengan empat tahun lalu. Memang banyak bangunan yang dulu dibom Israel sudah dibangun lagi.

Masjid Al-Sifa di depan Rumah Sakit Sifa, misalnya, dulu ambruk rata dengan tanah, sekarang sudah berdiri megah kembali. Kondisi di depan rumah sakit masih sama. Ada pom bensin, warung makan, dan penjual gorengan.

”Ya, Gaza City memang tidak banyak berubah,” tutur Tahrir (22), mahasiswi tahun keempat jurusan Matematika dari Universitas Al-Ashar di Gaza City. Kami bertemu Tahrir, perempuan berkerudung merah jambu itu, di dalam taksi yang membawa kami dari warung internet di Jalan Omar Mochtar, salah satu jalan utama di Gaza City.

Tahrir sudah di dalam taksi ketika kami menyetop taksi itu untuk membawa kami kembali ke hotel. Memang demikianlah, naik taksi di Gaza City seperti naik angkot saja. Kalau sekiranya masih ada tempat duduk, sopir akan menghentikan taksinya bila ada yang menyetopnya di jalan. Jadi, penumpang taksi akan diajak putar-putar ke tujuan tiap penumpang.

”Kehidupan kami tetap susah,” kata Tahrir, yang dibenarkan Talaat (55), pengemudi taksi dengan mengangkat kedua tangannya.

Lalu apa komentar Tahrir dengan naiknya status Palestina di PBB? ”Pasti kami bahagia. Kami bangga. Pada akhirnya negara kami diakui begitu banyak anggota PBB. Namun, kami masih prihatin, mengapa sampai sekarang Fatah dan Hamas tidak bersatu. Hal itu membuat perjuangan kami menghadapi Israel tidak kuat,” kata Tahrir.

Soheh, soheh, soheh (benar, benar, benar),” komentar Talaat mendengar omongan Tahrir itu.

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan Video Lainnya >

    27th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Verifikasi akun KG Media ID
    Verifikasi akun KG Media ID

    Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

    Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.