Kompas.com - 20/11/2012, 09:33 WIB
EditorEgidius Patnistik

"Jika Anda berbicara tentang masyarakat Israel, apa yang benar-benar menjauhkan mereka dari perdamaian adalah bom bunuh diri dan operasi militer di Tepi Barat," kata Amihai kepada Whelan.

Faktor kedua adalah "hampir semua warga Israel menjadi tentara". Semua orang menjalankan dinas militer, "dan ayah, saudara, Anda sendiri, bahkan ibu Anda menjadi anggota tentara cadangan—semua orang terlibat dalam pertahanan."

Faktor ketiga adalah situasi di Gaza sendiri, kata Amihai. Pasukan Israel ditarik mundur pada September 2005, dan "apa yang kami terima adalah roket dari Jalur Gaza. Jadi, ketika Anda berbicara dengan rakyat (Israel) tentang apa yang Anda inginkan dari orang Palestina, mereka mengatakan, 'Kita mundur dan lihat apa yang kita terima'."

"Pada sisi lain, semua orang takut," tutur Ronny Israel, guru seni grafis di Tel Aviv yang membuat halaman Facebook bernama Israel-Loves-Iran delapan bulan yang lalu, ketika warga Israel berpikir bahwa pemerintah mereka akan segera menempuh tindakan militer terkait pengayaan nuklir Iran.

Halaman itu, yang sederhana tetapi kuat secara grafis, memberi pesan "Please Stop War", masih ada dan telah menjadi message board bagi kegiatan perdamaian. Pada minggu ini, kata Israel, setengah juta orang berkunjung ke halaman itu, dan pada akhir minggu, ia berharap lebih dari satu juta akan mengunjunginya.

"Namun, itu orang-orang dari seluruh dunia," katanya kepada Whelan. "Tidak ada keterlibatan yang cukup (memadai) dari warga Israel dan Palestina dalam masalah itu."

Gerakan perdamaian di Israel kecil, katanya, karena "sangat rumit untuk menuntut perdamaian". Ada terlalu banyak kompleksitas dalam hubungan antara dua kelompok itu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Karena kekerasan, setiap orang berada dalam posisinya sendiri dan tidak bersedia untuk bergerak ke sisi lain. Tapi bagi saya, ini langkah awal dalam setiap proses perdamaian. Anda harus memahami bahwa pihak lain juga seperti Anda. Ya, beberapa dari mereka gila, (itu ada) di kedua sisi ... tapi kebanyakan adalah orang-orang biasa."

Sebagian besar warga Israel dan Palestina siap untuk hidup berdamai, katanya, tetapi kaum ekstremis memiliki suara yang lebih lantang dalam debat publik.

Di Israel, hanya ada satu partai di Knesset yang secara terbuka berbicara tentang solusi dua-negara, yaitu Partai Meretz yang merupakan aliansi sayap kiri dengan basis dukungan yang relatif kecil.

Pemerintahan Netanyahu sendiri mempertahankan dukungan bagi permukiman Yahudi dan doyan dengan aksi militer untuk melawan kekerasan. Minggu ini, Menteri Dalam Negeri, Eli Yishai, mengatakan, "Tujuan dari operasi militer adalah untuk mengirim Gaza kembali ke Abad Pertengahan. Hanya dengan begitu Isreal bisa tenang selama 40 tahun."

"Tentu saja sulit untuk mempertahankan optimisme," kata Amihai. "Mereka (rakyat Israel) percaya pada pemerintah dan apa yang dikatakannya."

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.