Marty: Siklus Kekerasan Harus Dihentikan

Kompas.com - 20/11/2012, 02:52 WIB
Editor

RAFAH, KOMPAS - Saling gempur antara pihak Hamas di Jalur Gaza dan pasukan Israel terus berlanjut hingga Senin (19/11). Jumlah korban tewas di sisi Palestina telah mencapai 98 orang setelah Israel memperluas operasi serangan udaranya.

Sebaliknya, serangan roket Hamas ke Israel juga terus berlanjut. Sepanjang Senin dilaporkan, tak kurang dari 75 roket Hamas ditembakkan ke Israel. Israel mengklaim telah menangkis ratusan roket itu dengan sistem pertahanan Iron Dome-nya.

Berlanjutnya konflik bersenjata ini memicu seruan gencatan senjata dari seluruh dunia. Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa, Senin, di sela-sela pelaksanaan KTT ASEAN di Phnom Penh, Kamboja, menegaskan, siklus kekerasan di Jalur Gaza harus segera dihentikan karena dinilai sudah sampai pada taraf yang mengkhawatirkan dari sisi kemanusiaan.

Pemerintah Indonesia mendesak Dewan Keamanan PBB segera mengambil tindakan untuk menghentikan kekerasan. ”Dewan Keamanan PBB harus bertindak agar situasi (konflik) di sana segera diakhiri,” katanya.

Menurut Marty, sudah terlalu banyak korban manusia berjatuhan. Ia menambahkan, semua pihak seharusnya belajar dari konflik yang terjadi pada 2008-2009 dengan siklus kekerasan serupa, yang hanya mendatangkan kehancuran dan mengoyak rasa kemanusiaan.

”Indonesia menyatakan keprihatinan mendalam, mempunyai kepedulian yang mendalam, atas berulangnya kekerasan di sana,” kata Marty.

Sementara itu, anggota komite pusat faksi Fatah, Azzam Ahmed, mengatakan kepada televisi Alarabiya, Israel dan Palestina harus segera mencapai kesepakatan gencatan senjata baru.

Ubah kalkulasi

Menurut dia, kecanggihan jenis senjata yang digunakan dalam perang ini, seperti kemampuan roket Palestina menjangkau kota Tel Aviv dan Jerusalem, telah mengubah semua kalkulasi dan bisa memengaruhi jalannya perundingan gencatan senjata.

Salah satu pemimpin Hamas, Ezzat Risq, dalam akun Facebook-nya, mengatakan, Hamas tak akan setuju gencatan senjata kecuali Israel menghentikan aksi pembunuhan tokoh-tokoh Hamas dan mencabut blokade terhadap Jalur Gaza.

Sebaliknya, Deputi PM Israel Moshe Ayalon menyatakan, Israel setuju gencatan senjata jika Hamas berhenti menembakkan roket-roketnya ke arah Israel.

Kepala Biro Politik Hamas Khaled Meshaal, Minggu lalu, di Kairo, bertemu Presiden Mesir Muhammad Mursi. Menurut Direktur Studi Palestina Ibrahim Darawi, Meshaal telah meminta gencatan senjata yang imbang dan bisa mencabut blokade atas Jalur Gaza.

Darawi mengatakan, posisi Hamas dalam perundingan gencatan senjata dengan Israel kini cukup kuat karena didukung Mesir, Turki, dan Qatar.

Aksi unjuk rasa menentang kekejaman Israel kembali berlangsung di Tanah Air. Pada Senin, ratusan mahasiswa dari sejumlah organisasi menggelar demonstrasi di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.(AFP/MTH/WHY/CHE/DHF)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.