Kompas.com - 17/11/2012, 14:31 WIB
|
EditorRusdi Amral

PHNOM PENH, KOMPAS.com — Bagi para wartawan, terutama asal Indonesia, yang biasa atau pernah meliput persidangan atau konferensi rutin organisasi kawasan Asia Tenggara (ASEAN), proses peliputan rangkaian acara Konferensi Tingkat Tinggi di Phnom Penh, Kamboja, dinilai teramat ruwet. Beberapa wartawan saat berbincang dengan wartawan Kompas, Wisnu Dewabrata, Sabtu (17/11/2012), merasa sangat dibatasi dan dilokalisir oleh pihak panitia pelaksana.

Sepanjang tahun 2012, Kamboja memang menjadi tuan rumah ASEAN. Keruwetan dimulai sejak hari pertama rangkaian pertemuan KTT ke-21 ASEAN, yang diawali sidang antarmenteri luar negeri (AMM). Untuk bisa masuk ke dalam lokasi gedung tempat persidangan, wartawan dalam dan luar negeri harus berjibaku meminta kartu pas masuk tambahan. Padahal, setiap wartawan sudah dibekali kartu identitas peliputan KTT ASEAN dan persidangan terkait lain.

Panitia membuat kartu pas berbentuk dan seukuran kartu nama untuk setiap acara pertemuan, mulai dari AMM, pertemuan antarmenteri sektor ekonomi (AEMM), dan sektor keamanan (APSC). Mereka bahkan membuat kartu pas khusus untuk wartawan yang meliput jumpa pers Menteri Luar Negeri Kamboja Hor Namhong. "Tidak seperti KTT ASEAN di Indonesia, pengamanan dan pengaturannya tidak seruwet ini. Wartawan dipaksa menunggu di media center, sementara rangkaian pertemuan digelar di gedung lain di sebelah gedung tempat media center," ujar Esther Fin Harini, koresponden media Jepang di Jakarta.

Tak hanya wartawan, kebijakan sama juga diterapkan kepada para anggota delegasi negara-negara peserta. Salah seorang delegasi Kementerian Luar Negeri Indonesia menunjukkan kartu pas khusus bertanda warna merah untuk bisa mengakses seluruh lantai dan ruangan di gedung Peace Palace tempat KTT berlangsung. Jumlah kartu yang diberikan pun sangat terbatas, tak lebih dari 30 kartu pas khusus untuk delegasi per negara.

Tanpa kartu-kartu pas tadi, baik wartawan dan bahkan anggota delegasi sama sekali tak boleh mendekat lokasi pertemuan atau bahkan berada di lantai tempat pertemuan berlangsung. "Kalau tidak pegang kartu khusus ini, kami, delegasi sekalipun, enggak akan boleh masuk ke lokasi," ujar salah seorang anggota delegasi asal Indonesia saat berbincang dengan para wartawan asal Jakarta.

Puluhan anggota pasukan pengamanan bersafari hitam-hitam berambut cepak selalu siap mengusir siapa pun yang menurut mereka tak boleh berada di lokasi, bahkan dengan cara kasar sekalipun. Alat perekam seorang pewarta asal Filipina bahkan sempat jatuh akibat ditepis sang penjaga. Saat baru beberapa menit Menlu Marty diwawancara, usai mengikuti pertemuan antarmenteri bidang politik dan keamanan ASEAN (APSC), salah seorang dari puluhan aparat keamanan di dalam gedung tiba-tiba berdiri di depan sang menteri sambil menyuruh wartawan mengakhiri wawancara.

Kejadian itu sontak mengagetkan Menlu Marty dan juga para wartawan. Marty bahkan sampai memegang bahu si petugas dan memintanya menyingkir karena dia masih ingin menyelesaikan pernyataannya kepada para wartawan. Sejumlah wartawan dari beberapa negara yang kesal dengan perlakuan sangat membatasi itu beberapa kali tampak beradu argumen dengan para petugas keamanan, bahkan panitia pendamping media massa. Sayangnya, hal itu hanya jadi debat kusir, terutama lantaran kemampuan bahasa Inggris para petugas dan panitia pelaksana tadi teramat pas-pasan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Sejak beberapa pertemuan ASEAN lalu, sepanjang tahun ini pengamanannya memang sangat berlebihan. Bahkan, ketika ada sejumlah narasumber sebenarnya mau bicara ke wartawan, petugas keamanan menghalang-halangi wartawan mendekat. Atau jangan-jangan kalau seperti itu, delegasi juga jadi ikut-ikutan dibatasi aksesnya," ujar Astari Yanuarti, jurnalis media asing di Jakarta.

Sepertinya Kamboja lupa kalau pertemuan-pertemuan dan persidangan ini bukanlah pergelaran internal pemerintah mereka, melainkan hajatan rutin tahunan ASEAN yang saat ini tengah berjuang membangun sebuah komunitas bersama ASEAN (ASEAN Community) di mana berbagai hal harus sangat terbuka dan saling terkoneksi.

Baca tentang


    25th

    Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X