Bertahannya Otokrasi Komunisme Feodalistik

Kompas.com - 16/11/2012, 02:18 WIB
Editor

Oleh Rene L Pattiradjawane

Tak bisa disangkal bahwa sistem politik yang berlangsung di China pasca-Kongres ke-18 Partai Komunis China (PKC) berbeda dengan yang dikenal di dunia dalam konteks politik modern. Terpilihnya Wakil Presiden RRC Xi Jinping sebagai Sekjen PKC menegaskan kembalinya politik kedinastian berkarakteristik China berselubung partai komunis.

Ini membenarkan analisis hasil Kongres ke-17 PKC tahun 2007 bahwa situasi China pada umumnya dan dunia pada khususnya memerlukan titik lepas landas sejarah yang baru. Bagi para pemikir dan pengambil keputusan strategis di PKC, titik ini diperlukan untuk melanjutkan pembangunan masyarakat sejahtera modern serta mempercepat modernisasi sosialis.

Dalam bahasa komunisme China, ini disebut sebagai juedingxin jieduan (fase penentuan) dalam Kongres ke-18 PKC, sebagai upaya untuk mendorong modernisasi serta proses reunifikasi tanah air (khususnya menyangkut Taiwan), menjaga perdamaian dunia, dan mengembangkan tiga tugas sejarah partai yang berusia 91 tahun ini.

Artinya, Sekjen PKC Xi Jinping yang langsung menjabat Ketua Komisi Militer Pusat PKC menggantikan Hu Jintao, dan menjadi Presiden RRC pada bulan Maret mendatang, menjadi orang paling kuat untuk menempuh tugas tersebut. Tugas sejarah komunis China abad ke-21 akan mencakup kexue fazhan (perkembangan pengetahuan), hexie fazhan (perkembangan keharmonisan), dan heping fazhan (perkembangan perdamaian).

Ini menjelaskan mengapa anggota Komite Tetap Politbiro sebagai inti kekuatan PKC jumlahnya berkurang menjadi tujuh orang dibanding dengan kongres sebelumnya yang berjumlah sembilan orang. Ini juga yang menjelaskan bahwa China mempunyai banyak persoalan yang harus dihadapi para pemimpinnya di dalam dan luar negeri, ketika rata-rata usia ke-7 orang ini lebih tua (63,4 tahun) dibanding para anggota komite tersebut pada kongres PKC lima tahun lalu (62,1 tahun).

Mundurnya Hu Jintao dari Ketua Komisi Militer Pusat PKC berbeda dengan Jiang Zemin yang menyerahkannya kepada Hu Jintao dua tahun kemudian, sekaligus menandakan kuatnya ”faksi pangeran” (taizidang) yang didukung oleh para senior partai. Ini yang menjelaskan kehadiran Jiang Zemin dalam acara pembukaan dan penutupan Kongres ke-18 PKC.

Tidak terpilihnya Ketua Departemen Organisasi PKC Li Yuanchao dan Sekretaris PKC Guangdong Wang Yang, sekaligus juga menghilangkan pengaruh Hu Jintao dari kepemimpinan inti PKC. Dari tujuh orang pemimpin komunis China yang baru, masing-masing Xi Jinping, Li Keqiang, Zhang Dejiang, Yu Zhengsheng, Liu Yunshan, Wang Qishan, dan Zhang Gaoli, empat orang masuk dalam ”faksi pangeran”.

Selain Xi Jinping, lainnya adalah Zhang Dejiang, anak seorang mayor jenderal Tentara Pembebasan Rakyat (TPR). Kemudian Yu Zhengsheng, ayahnya Huang Jing (Yu Qiwei) adalah mantan suami Jiang Qing, yang kemudian menikahi Mao Zedong, dan menjadi terkenal pada masa Revolusi Kebudayaan. Dan Wang Qishan menikah dengan anak mantan Wakil PM China Yao Yilin yang terkenal sangat konservatif dalam pembangunan ekonomi pada masa Deng Xiaoping berkuasa.

Politik kedinastian dalam sejarah modern komunisme memang merupakan sintesis budaya kekuasaan China. Berkuasanya kelompok ”faksi pangeran” setidaknya menjamin kelangsungan kekuasaan komunisme tanpa reformasi politik, sekaligus melindungi kepentingan kekuasaan dan kuatnya pengaruh senioritas dalam mempertahankan otokrasi komunisme.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.