Kompas.com - 13/11/2012, 12:30 WIB
EditorEgidius Patnistik

JERUSALEM, KOMPAS.com - Pesawat Israel tiga kali menyerang Jalur Gaza, Selasa (13/11) dini hari. Serangkaian serangan itu menghantam instalasi penyimpanan senjata serta dua lokasi peluncuran roket yang digunakan gerilyawan, kata militer di dalam satu pernyataan.

Saat krisis yang meningkat di Jalur Gaza memasuki hari kelima. Militer Israel menyatakan telah mengenai sasaran serangannya. Tak ada laporan mengenai korban jiwa dalam serangan tersebut, yang mengakibatkan ledakan keras. Israel memperingatkan akan melancarkan serangan keras terhadap gerilyawan Palestina yang meluncurkan roket ke dalam wilayah negara Yahudi itu.

Gerilyawan menyatakan pada Senin larut malam bahwa mereka siap bagi gencatan senjata tapi tak ada tanggapan dari Israel. Para pemimpin Hamas, faksi gerilyawan yang menguasai Jalur Gaza, bertemu dengan Jihad Islam dan kelompok lain serta menyatakan mereka akan menanggapi sejalan dengan cara Israel bertindak, rumus yang digunakan dalam pergolakan sebelumnya untuk menawarkan gencatan senjata.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan mengadakan pertemuan forum sembilan menteri senior, Selasa sore, untuk memutuskan jalur tindakan. Radio Israel menyatakan Netanyahu telah bertemu dengan Menteri Pertahanan Ehud Barak dan Kepala Staf Militer Letnan Jenderal Benny Gantz pada Senin malam untuk mengajukan skenario serangan yang mungkin.

Ketegangan meningkat tajam pada Sabtu, ketika empat prajurit Israel yang berpatroli di perbatasan Israel-Jalur Gaza cedera. Israel menanggapi dengan tembakan tank dan serangan udara dan menewaskan enam orang Palestina, termasuk empat warga sipil, dan sedikitnya 30 orang lagi cedera. Militer Israel menyatakan gerilyawan Palestina telah menembakkan 12 roket pada Senin, dan sebanyak 119 roket telah diluncurkan sejak Sabtu.

Seorang pejabat Palestina, yang tak bersedia menyebutkan namanya, mengatakan Mesir telah berusaha menengahi gencatan senjata, dan kendati tak ada gencatan senjata resmi yang diberlakukan, Hamas memahami perlunya ketenangan.

Peluncuran roket pada Senin diklaim oleh beberapa kelompok lebih kecil, termasuk satu organisasi Salafi yang menolak pemerintahan Hamas.

Israel tak memperlihatkan keinginan besar bagi perang baru di Jalur Gaza, yang dapat membuat tegang hubungan dengan pemerintah baru Mesir. Kedua negara itu mencapai perdamaian pada 1979. Namun Netanyahu mungkin enggan untuk terlihat lemah sebelum pemilihan umum pada 22 Januari, sementara jajak pendapat saat ini meramalkan ia akan menang.

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X