Kompas.com - 13/11/2012, 11:36 WIB
|
EditorRusdi Amral

PHNOM PENH, KOMPAS.com — Kim Khen adalah seorang nenek renta Kamboja berusia 80 tahun. Dia tidak bisa berdiam diri lagi tentang kebrutalan rezim Khmer Merah. Ada kisah horor masa lalu yang memilukan. "Mereka melakukan hal-hal buruk dan, jika saya terus menyembunyikannya, itu sama dengan menyembunyikan seorang musuh di desa saya," kata Kim tentang tentara Khmer Merah, yang pernah meneror rekan tahanan sesama perempuan di Kamboja pada akhir 1970-an.

"Suatu hari, para  tentara datang dengan besi panjang membara dan menanyakan apakah ada 'wanita nakal'," kata nenek, yang bercerita sembari didampingi seorang psikolog. Dia melanjutkan kisah pelecehan seksual brutal terhadap seorang perempuan lain. Para tentara kemudian menyentuhkan besi membara itu ke tangannya sendiri. Kim pun melucuti blus putihnya ... Banyak perempuan menyimpan rapat trauma penyiksaan itu.

Dia adalah salah satu dari sedikit yang bertahan di antara 600 tahanan perempuan di sebuah penjara di Provinsi Takeo. Pada bulan lalu, dia bertutur di sebuah forum publik di Phnom Penh. "Saya bicara mewakili tahanan perempuan yang tewas," katanya di hadapan 400 orang hadirin.

Dengan menangis, dia mengenang bagaimana para perempuan diciduk dari tahanan "untuk bermain" dengan para tentara, yang tidak pernah dia lihat lagi kelak. Dia tidak menyaksikan pemerkosaan, tetapi, "Saya mendengar rintihan." Kim berbicara atas upaya sebuah lembaga nirlaba bernama Cambodian Defenders Project (CDP).

"Pelecehan seksual meluas, tetapi hanya ada sedikit penyelidikan soal itu," kata Duong Savorn dari CDP. Dipimpin Pol Pot, rezim Khmer Merah merusak masyarakat modern Kamboja, memisahkan keluarga, memaksa warga memasuki kamp kerja paksa. Ini merupakan utopia untuk menciptakan sebuah komunitas komunis selama empat tahun kekuasaan (1975-1979).

Kim dipenjarakan hanya karena meratapi kematian ibu dan suami. "Saya khawatir anak-anak saya malu karena kisah saya. Namun, selama saya memendamnya, dada saya terasa berat."

Saksi lain bernama Hong Savath bertutur juga. Dia berusia 14 tahun saat diperkosa tiga kader Khmer Merah. Dia kemudian pingsan dan ditinggal sendirian di hutan. Dia melahirkan seorang anak empat bulan setelah pasukan Vietnam menjungkalkan Khmer Merah. "Saya seorang ibu yang tidak pernah menikah, saya tidak menyembunyikan bahwa saya telah diperkosa. Ada yang bisa menerima kisah saya dan ada yang mendiskriminasikan saya. Jika kita diam, kita akan menyesal di akhir hidup kita. Kita harus bercerita kepada dunia bahwa Kamboja menderita pelecehan seksual di bawah rezim Khmer Merah."

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun, ada seorang perempuan renta lain yang enggan bertutur. "Saya tidak bisa mengungkapkan penderitaan saya karena begitu berat. "Pengadilan Khmer Merah akan segera berakhir ... dan pemerintah tidak melihat kasus kekerasan seksual dengan serius. Kami kecewa. Kami seperti benda terapung saja di sungai."



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.