Kompas.com - 29/10/2012, 10:21 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

BANDUNG, KOMPAS.com — Kepolisian Resor Kota Besar Bandung membantah tegas tudingan yang menyebut mereka telah memaksa jemaah Ahmadiyah untuk menandatangani surat pernyataan agar pengikut aliran ini tidak menggelar shalat Idul Adha dan menyembelih hewan kurban dalam Lebaran Haji akhir pekan lalu.

"Kami hanya meminta, kami tidak memaksa. Mau ditandatangani silakan, tidak juga tidak apa-apa. Tidak ada sanksinya juga kan ditandatangani atau tidaknya," tegas Wakil Kepala Polrestabes Bandung AKBP Dadang Hartanto saat dihubungi Kompas.com, Minggu, (28/10/2012) kemarin.

Dadang menegaskan, polisi hanya memenuhi permintaan dari massa pelaku perusakan yang berusaha menegakkan Peraturan Gubernur soal pelarangan aktivitas Ahmadiyah di Jawa Barat. "Jadi, salah besar kalau Ahmadiyah menuduh polisi memaksa menandatangani surat kepada Ahmadiyah. Seharusnya, pihak Ahmadiyah bersyukur karena aksi pelaku bisa diredam polisi," ujar Dadang.

Saat insiden terjadi, polisi berusaha membawa perwakilan dari kedua pihak ke Markas Polrestabes. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi agar tidak terjadi konflik lagi di antara keduanya. "Kalau tidak diredam polisi, saya yakin kasusnya bisa lebih parah dari itu, makanya kami bawa keduanya untuk melakukan negosiasi di kantor," ujar Dadang.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, jemaah Ahmadiyah di Masjid An-Nashir, Bandung, yang mendapat penyerangan dari sekurangnya 30 orang Kamis malam, mengaku dipaksa oleh polisi untuk menandatangani surat pernyataan oleh polisi. Di dalam surat itu disebutkan, umat Ahmadiyah tidak akan melakukan peribadahan terkait Idul Adha, baik shalat Idul Adha maupun penyembelihan hewan kurban.

"Kami dipaksa polisi untuk menandatangani surat penyataan meski bagaimanapun kami tidak mau melakukannya, sampai akhirnya kami ditahan semalaman," tegas mubalig Masjid An-Nashir, Abdul Wahid Yaura, kepada wartawan seusai konferensi pers, di Rumah Makan Resep Moyang, Jalan Pahlawan, Bandung, Jawa Barat, Jumat (26/10/2012).

Surat pernyataan itu muncul setelah ada permintaan dari kelompok penyerang kepada pengikut aliran Ahmadiyah di sana. Menurut Yaura, pihak kepolisian berkilah, penandatanganan itu harus dilakukan demi alasan keamanan. Namun, akibat tak mau menandatangani surat itu, polisi tidak mengizinkan tiga jemaah Ahmadiyah itu untuk pulang. Ketiganya adalah mubalig Masjid An-Nashir, Abdul Wahid Yaura, Irfan, dan Mujib.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Akhirnya, pada Jumat sekitar pukul 09.00 WIB, beberapa jemaah Ahmadiyah lain menjemput ketiga mubalignya itu. Polisi pun kemudian mengizinkan ketiganya pulang. "Jika kami tidak dijemput, mungkin tidak akan pulang, kita juga di kantor polisi tidak tahu statusnya apa," tandas Yaura.

Kamis malam, Masjid An-Nashir yang berada di kawasan Astanaanyar, Bandung, diserang oleh sekelompok orang pada Kamis malam. Kelompok ini merusak gerbang masjid, memecahkan beberapa kaca jendela, dan mengobrak-abrik barang-barang di dalam masjid yang telah berdiri sejak tahun 1948 itu.

***
Ikuti Perkembangan Berita ini dalam topik: PENYERANGAN AHMADIYAH DI BANDUNG

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.