Kompas.com - 23/10/2012, 11:38 WIB
|
EditorMarcus Suprihadi

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintahan Tibet di pengasingan, yakni Central Tibetan Authority (CTA), yang berpusat di Dharamsala, India, mengharapkan agar rakyat Indonesia mendukung perjuangan rakyat Tibet untuk mendapatkan kembali hak-hak dasarnya di wilayah mereka yang sejak 1959 dikuasai China.

Demikian disampaikan Menteri Informasi dan Hubungan Internasional CTA Dicki Chhoyang saat berkunjung ke Jakarta, pekan lalu. Chhoyang menghadiri Konferensi Hak Asasi Manusia Asia Tenggara yang diselenggarakan Southeast Asian Human Rights Studies Network. 

Chhoyang menggarisbawahi bahwa hingga saat ini telah ada 55 warga Tibet yang menjadi korban aksi bakar diri di wilayah Tibet sebagai ungkapan protes atas represi Pemerintah China atas warga Tibet. Jumlah tersebut meningkat menjadi 57 orang setelah dua orang lagi melakukan aksi bakar diri pada hari Senin dan Sabtu pekan lalu.

Menurut kantor berita AFP yang mengutip organisasi International Campaign for Tibet di AS, aksi bakar diri itu marak terjadi sejak Februari 2009. Menurut Chhoyang, para korban berusia antara 17-60 tahun, dan sebagian besar berasal dari kalangan biarawan dan biarawati Buddhis.

Mereka semua hanya menyerukan dua tuntutan yang sama, yaitu kebebasan di Tibet dalam mempraktikkan budaya asli dan agama mereka, dan Pemerintah China mengizinkan pemimpin spiritual Tibet Dalai Lama kembali ke Tibet.

Bukan kemerdekaan

Chhoyang menegaskan bahwa perjuangan rakyat Tibet melalui CTA selama ini bukan untuk mencari kemerdekaan dan terlepas dari Republik Rakyat China (RRC), melainkan status otonomi khusus yang menghargai hak-hak warga Tibet menjalankan budaya dan agama mereka.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Perjuangan Tibet selama ini juga dilakukan tanpa kekerasan. Itu sebabnya, CTA menyerukan kepada negara-negara yang memiliki hubungan dekat dengan China, termasuk Indonesia, untuk secara lembut mengingatkan China soal persoalan yang terjadi di Tibet.

"Negara-negara di dunia tidak harus memilih antara Tibet dan China. Mereka hanya perlu mengingatkan China bahwa apa yang baik bagi Tibet akan baik bagi China juga," tutur Chhoyang.

Chhoyang sendiri mengakui CTA hingga saat ini belum menjalin kontak resmi dengan Kementerian Luar Negeri RI untuk mengangkat isu-isu tersebut. Namun, ia menegaskan, pihaknya selalu siap setiap saat jika diminta penjelasan terkait masalah yang terjadi di Tibet.

Ia juga berharap rakyat Indonesia akan mendukung dan memberikan solidaritas terhadap perjuangan rakyat Tibet. "Rakyat Indonesia menderita saat berada di bawah pemerintahan kediktatoran, jadi mereka tahu makna dan nilai kebebasan ini," tutur Chhoyang.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X