Lantangnya Si "Jangan Bicara"

Kompas.com - 12/10/2012, 04:44 WIB
Editor

Aryo Wisanggeni

Terlahir sebagai anak petani, putus sekolah pada usia 12 tahun, meraih Nobel Sastra pada usia 57. Hidupnya penuh kontroversi. Dikritik aktivis hak asasi manusia karena dianggap dekat dengan Partai Komunis China, Mo Yan yang artinya ’jangan bicara’ juga pernah dituding subversif karena kritik sosial tajam pada karya-karyanya.

”Seorang penulis haruslah menyampaikan kritik dan kegelisahannya atas sisi gelap masyarakat dan keburukan sifat manusia,” ujar Mo Yan saat berbicara pada Frankfurt Book Fair 2009. Pernyataan itu menggambarkan bagaimana dan seperti apa karya Mo.

Mo seperti muncul sebagai sebuah kejutan di tengah spekulasi siapa penerima Nobel Sastra 2012. Akademi Swedia, sebagai lembaga yang menyeleksi penerima Nobel Sastra, selalu merahasiakan siapa yang menjadi nomine pemenang. Itu sebabnya setiap perhelatan Nobel selalu memunculkan spekulasi, bahkan taruhan.

Mo Yan menjadi warga negara China pertama dan orang China kedua yang meraih Nobel Sastra. Sastrawan kelahiran China dan berkewarganegaraan Perancis, Gao Xingjian, meraih penghargaan yang sama pada 2000. Kisah hidup Mo memang berbeda dari pendahulunya itu.

Gao terlahir dalam sebuah keluarga pasangan bankir dan aktris amatir asal Ganzhou, China. Mo yang bernama lahir Goan Moye berasal dari keluarga petani miskin asal Gaomi, Provinsi Shandong, belahan timur laut daratan China. Begitu miskinnya hingga Goan kecil kerap harus memakan kulit pohon dan gulma demi bertahan hidup.

Kemiskinan pula yang membuat Goan kecil putus sekolah di tengah gejolak Revolusi Kebudayaan. Pada usia 12 tahun itu, ia mulai bekerja menjadi petani hingga akhirnya menjadi buruh pabrik. Pada 1976, saat ia berumur 21 tahun, Goan bergabung dengan Tentara Pembebasan Rakyat. Ketika itulah ia mulai belajar sastra dan menulis.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ia memakai nama pena yang tak lazim, Mo Yan, yang berarti ’jangan bicara’, tetapi ia tak pernah berhenti ”berbicara dengan menulis”. Pada 1981, ia mulai dikenal publik lewat cerita pendek pertamanya yang diterbitkan sebuah jurnal sastra. Setelah itu, Mo Yan seperti tak terhentikan.

Refleksi masa muda

Pada 1986, Mo Yan membuat gebrakan lewat novel Touming de hong luobo. Novel itu menjadi novel pertama yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing, yaitu Perancis, dengan judul Le radis de cristal (1993).

Halaman:


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.