Kompas.com - 10/10/2012, 22:51 WIB
EditorBenny N Joewono

WASHINGTON, KOMPAS.com - The Centre for Strategic and International Studies (CSIS) atau Pusat Studi Strategi International di Washington DC, Amerika Serikat (AS) meresmikan berdirinya Pusat Kajian Sumitro Djojohadikusumo Untuk Kebangkitan Ekonomi Asia Tenggara atau Sumitro Djojohadikusumo Center for Emerging Economies in Southeast Asia (SDCEESEA). Demikian rilis yang dikirim ke Kompas.com pada Rabu (10/10/2012).

Ernest Z Bower, yang saat ini menjabat sebagai penasehat senior dan direktur di Inisiatif Rekanan Program Asia Tenggara dan Pasifik di CSIS telah ditunjuk sebagai ketua pusat studi tersebut. Pusat Kajian yang didedikasikan atas nama Sumitro ini merupakan wadah kajian masalah-masalah Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Acara yang digelar di Gedung CSIS Washington DC ini dihadiri sekitar 100 orang tokoh antara lain Duta Besar negara Asia Tenggara termasuk Dino Pati Djalal, Dubes RI untuk AS.

Sejumlah tokoh intelektual dan politisi AS juga hadir Senator William Brock yang juga pernah menjabat Menteri Buruh di zaman Presiden Ronald Reagen dan John J. Hamre, Presiden dan CEO CSIS.

Hadir juga penulis dan analis Michael J. Green, Murray Hiebert, Chris Johnson, Robert Pringle, Larry Bailey, dan lain-lain. Dari Indonesia hadir Prof Suhardi (ahli lingkungan UGM), Fadli Zon (Direktur Institute for Policy Studies - IPS), Dr Rachmat Pambudy (Wakil Ketua Umum Himpunan Kerukutan Tani Indonesia - HKTI).

Pendanaan Pusat Kajian ini didukung oleh Yayasan Arsari Djojohadikusumo, yang didirikan pengusaha Indonesia Hashim Djojohadikusumo untuk mengingat perjuangan almarhum ayahnya, Professor Sumitro Djojohadikusumo, begawan ekonomi Indonesia dan sering disebut sebagai arsitek ekonomi Indonesia modern.

Pada 1950-an, Dr Sumitro bekerja sama dengan Yayasan Ford mengirim ekonom Indonesia ke AS untuk studi S3 di bidang ekonomi.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sumitro juga pernah menjadi wakil misi Indonesia tahun 1947-1949 di AS ketika kemerdekaan Indonesia masih harus diperjuangkan di Konferensi Meja Bundar dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“Ikatan antara Amerika Serikat dan Asia Tenggara menjadi dasar dari seluruh tujuan strategi Amerika,” ungkap Dr. John Hamre, presiden dan CEO dari CSIS.

“Kami hargai dukungan Bapak Hashim terhadap karya yang dilakukan oleh Ernie Bower dan tim Asia Tenggara kami. Fokus mereka pada isu kebangkitan ekonomi merupakan aspek penting pada wilayah ini dan akan menjadikan CSIS sebagai pemain utama pada diskusi kebijakan terkait Asia Tenggara,” katanya.

“Ini merupakan momen penting dalam sejarah Indonesia dan Asia Tenggara. Model baru untuk pembangunan ekonomi dan pemerintahan sedang didirikan, dan saya ingin memberikan rasa hormat pada ayah saya dengan memberikan perhatian pada institusi kelas dunia yang tidak hanya memberikan ide, tetapi menjadikannya kebijakan yang relevan dan aplikatif,” tutur Hashim Djojohadikusumo.

Melalui SDCEESEA, dialog Indonesia dan AS khususnya dapat dibangun lebih baik, konstruktif dan produktif.

SDCEESEA akan melakukan penelitian tentang hubungan antara Indonesia dengan AS dan Asia Tenggara serta mengikutsertakan program proaktif untuk mendukung pengertian lebih dalam dan hubungan lebih dekat dengan AS dan Asia Tenggara.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X